Category Archives: Princess Babble

Kerja Keras VS Kerja Cerdas

Lama vakum dari blog ini bukan berarti minatku hilang untuk menulis dan berbagi lewat tulisan. Kesibukan harianku sebagai mahasiswa teknik hanyalah salah satu alasan di antara berjuta lainnya yang tak perlu kusebutkan satu persatu.

Tulisan ini sendiri kudapatkan idenya dari file proposal acara yang kulihat beberapa waktu yang lalu. “Wah, kestarinya seorang pekerja keras”, itulah pikirku. Bagaimana tidak, setiap halaman ada latar belakang gambar yang dimasukkan dalam bentuk ‘gambar’ yang artinya harus manual di masukkan satu persatu ke setiap halaman. Saat mau diganti gambarnya tentu harus dihapus pula satu persatu gambar tersebut dari setiap halamannya. Jika aku tidak tahu triknya, tentu aku akan menambahkan gambar yang baru pula di setiap halamannya secara manual, padahal masalah latar belakang ini bisa diakali dengan pemberian watermark yang otomatis akan muncul di semua halaman, sehingga tidak perlu dimasukkan gambar satu-persatu. Rekanku menimpali dengus kesalku, “itulah beda kerja keras dan kerja cerdas”. Continue reading

Advertisements

1 Comment

Filed under Interest, Princess Babble

AKU IDEALIS. SO WHAT?!!

#EDISI_CURCOL

Saya sering mendengar orang memandang negatif kepada orang yang punya idealisme tertentu. Mulai dari sindiran halus hingga langsung to the point cara penyampaiannya. Sombong lah, egois, whatever lah, pokoknya disana kadang saya merasa sedih.

Well, sebenarnya saya cukup ‘merasa’ karena saya termasuk orang yang idealis. Sebagai seorang anak rantau, saya merasa amat sangat pentingnya adaptasi demi menjalani hidup yang nyaman dan aman di tanah orang. But still, kita tidak bisa terus menekan sifat asli dan bersandiwara menjadi orang kebanyakan hanya supaya tidak ‘dikomentari’ oleh orang lain. Percaya atau tidak itu sangat melelahkan dan munafik.

Ada 3 tipe orang yang paling tidak saya sukai.

  1. Orang yang kurang menghargai waktu
  2. Orang yang kurang menghargai barang
  3. Orang yang kurang menghargai usaha

Kalau saya sudah kesal, biasanya saya bisa menyindir halus sampai pedas atau langsung bicara to the point tanpa basa-basi, tergantung kepada orang yang bersangkutannya juga. The problem is, terkadang respon orang menanggapinya berbeda-beda.

Seperti orang idealis kebanyakan, saya pun termasuk orang yang keras kepala. Jika saya sudah merasa yakin akan suatu hal, maka keyakinan itu akan sulit dibelokkan apalagi dipatahkan kecuali dibantah oleh suatu hal yang lebih pasti dan dapat dipertanggung jawabkan. Tapi jangan salah, ini bukan berarti saya close minded, saya tetap open minded, tetap menerima apa pun input dari luar, namun di filter dan disesuaikan dengan keyakinan dan logika.

Sayangnya mungkin sikap seperti ini terlihat angkuh, sombong, dan egois di mata beberapa orang. Ini dia yang menjadi masalah terutama bagi perantau di tanah orang. Hal-hal ini kadang membuat idealisme itu goyah dan orang tersebut beralih menjadi realistis yang tertutup. Lalu sebenarnya apa yang harus dilakukan?

Bagi Anda yang mengalami masalah sama, jangan khawatir. Selama kita tidak mengganggu dan menyusahkan orang lain, jangan takut menegakkan idealisme tersebut. Kenapa harus memikirkan penilaian orang lain yang bahkan mungkin tidak mengerti alasan dari sikap idealis kita.

Jadi, Aku idealis. So what?!

Leave a comment

Filed under Princess Babble

Simpang Pocong dan Bus No. 19

Alhamdulillah, tidak terasa kaki telah melangkah untuk menuntut ilmu di semester 2. Semangat agar terus tetap berusaha dan istiqamah tidak boleh hilang dari genggaman. Apalagi ada si abang yang memberikan motivasi lebih dan alasan untuk terus melakukan yang terbaik, haha..

Selama satu semester bulak-balik dari Air Tawar-Limau Manih, sepertinya untuk semester baru ini belum ada perubahan juga. Walaupun sudah ada beberapa senior yang menyarankan untuk ngekos aja, tapi apalah daya situasi belum mengijinkan.

Di semester 2 ini dengar-dengar dari senior katanya gamrek (menggambar rekayasa) adalah pintu gerbang dari dunia teknik yang sebenarnya. Asistensi bersama senior yang tidak tentu jadwalnya bisa saja mengharuskan kami untuk siap siaga berkumpul bahkan ketika matahari telah terbenam. Tentu ini menjadi permasalahan tersendiri untukku yang tinggal jauh dari lokasi kampus. Belum lagi cerita-cerita mistis yang kudengar dari rekan-rekan ngobrol yang membuat ‘ogah’ untuk berlarut-larut di kampus. Salah satunya adalah cerita simpang pocong dan bus no. 19..

Pernah suatu waktu, ada uni teknik yang mau pulang dari kampus saat jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 8 malam (ntah pukul 9 atau seterusnya). Uni itu diceritakan habis dari lab dan entah bagaimana ceritanya uni itu pulang terakhir. Dengan keberanian yang luar biasa, uni itu nunggu bus di halte depan fakultas teknik. Tak berapa lama, lewatlah bus kampus dari simpang sebelah gedung H, ya, bus no. 19. Karena memang mau pulang maka naiklah uni itu ke bus kampus yang tentu saja sepi alias cuma dia sendiri yang jadi penumpang karena memang sudah malam.

Tanpa berfikir macam-macam mungkin karena kelelahan ingin cepat pulang ke kosan, perjalanan bus kampus yang menyusuri jalanan Unand di malam hari pun berjalan dengan hening dan lancar. Namun saat bus kampus melewati PKM, bus itu berhenti. Uni itu bingung kenapa busnya berhenti, ternyata ada pak satpam di luar yang menghentikannya.

“Mau pulang nak?”

“Iya pak..”

“Sini turun dulu”

“Nggak pak, kosan saya di bawah..”

“Mari saya antar saja”

“Tidak usah pak, kosan saya dekat, pakai bus saja sampai kok”

Setelah penolakan berkali-kali dari si uni dan bujukan  yang juga gigih berkali-kali pula dari pak satpam, akhirnya uni itu menyerah dan menurut untuk diantar saja oleh pak satpam.

Keesokan harinya, mungkin ada rasa penasaran yang tertinggal di benak uni tu mengenai kejadian kemarin malam. Uni itu pun menemui pak satpam tersebut dan bertanya kenapa tadi malam pak satpam itu begitu gigih untuk mengantarkan uni itu pulang ke kosannya..

“Kamu nggak sadar ya nak,tadi malam itu kamu bukan naik bus..”

“Jadi naik apa pak?”

“Naik keranda yang dibawa oleh pocong.”

“…”

Uni itupun berterima kasih kepada pak satpam dan minta maaf atas kekeraskepalaannya tadi malam.

Sejak saat itu bus no. 19 jadi terkenal dan simpang tempat keluarnya bus tersebut disebut simpang pocong.

Cerita seperti itu apakah benar atau hanya guyonan belaka, tidak ada yang bisa memastikannya. Cerita yang hanya di dengar dari mulut ke mulut ini hanya memberikan suatu nasihat, “Jangan pulang terlalu malam dari kampus, kalaupun tidak bisa dielakkan, usahakan ada teman yang bisa menemani atau ada kendaraan. Jangan pernah naik bus atau angkot yang lewat di kampus di atas jam 8 malam, karena siapa tahu, itu bus beneran atau bus-busan.”

Tentu kita sebagai makhluk yang memiliki Tuhan tidak boleh takabur dan selalu berlindung pada-Nya. Namun untuk berhati-hati dan selalu waspada tidak ada salahnya. Bagaimana ke depannya, mungkin biar dijalani saja dulu, kalau sanggup semoga setiap langkah menjadi berkah..

Harapan terakhir, semoga di semester baru ini bisa menjadi anak yang lebih baik dan membanggakan orangtua serta lebih berguna bagi sesama. Aamiin..

1 Comment

Filed under Princess Babble

UKS oh UKS

Memvisualisasikan apa yang ada di dalam pikiran ke selembar kertas adalah hobi Rani sejak lama. Mulai dari bermain pensil sampai bermain kuas terlepas apakah hasilnya memuaskan atau akan berakhir di tempat sampah. Melihat bakat yang belum terlalu tersalurkan ini, mama Rani tercinta pernah mau masukin Rani ke sanggar, tapi entah mengapa waktu itu nggak jadi. Maka dengan cara otodidak Rani mengembangkan kemampuan yang ala kadarnya ini.

Waktu lagi hunting stampel #ups mengunjungi UKM-UKM di Unand, tempat pertama yang Rani datangi adalah UKS alias Unit Kegiatan Seni. Di pintu masuknya itu sudah terpajang berbagai karya yang cukup memesona. Setelah ngobrol-ngobrol dengan kakak UKS, keinginan untuk bergabung tumbuh dan berkembang dalam hati. Mungkin Rani bisa menyalurkan hobi Rani disini. Namun setelah pergi ke UKM-UKM lain, ada juga yang menarik hati dan gagal untuk diabaikan. Rani juga tertarik dengan jurnalis. Menulis juga salah satu cara memvisualisasikan apa yang ada dalam pikiran, bedanya lewat tulisan. Duh, sempat galau juga, karena Rani merasa ga mampu untuk ikut di keduanya, tapi juga bingung untuk memilih salah satu.

Setelah memutuskan untuk membiarkan waktu saja yang memutuskan, serta mulai disibukkan oleh kegiatan perkuliahan yang sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, Rani mulai melupakan kegalauan yang sebenarnya kurang penting tadi. Lalu kemarin pas lagi jalan lewat PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa), Rani jadi galau lagi.. Melihat pameran dari UKS yang sangat membius pelintas jalan hingga tak kuasa menahan keinginan berhenti sejenak dan menjadi penikmat seni. Wah, jemari ini tak henti-hentinya mengelus permukaan kanvas yang telah tertuup oleh warna-warna yang terpadu indah.

Ini kiriman dari new mate Rani, cuma beberapa aja sih, soalnya malu mau foto-foto katanya. Orang rame dan ga ada satupun yang foto-foto, cuma kami (secara teknis, cuma teman Rani). Haha. Masih banyak lagi sebenarnya, kalau mau lihat, datang ada ke PKM Unand.

3307 3308 3309 338020140925_153646

Mungkin di lain kesempatan Rani bisa mendokumentasikan lebih banyak lagi untuk menunjukkan karya-karya pencipta seni UKS Unand. Seperti motto yang Rani kutip dari blog UKS sendiri,

“karena karya, kami ada..”

Mungkin itulah semboyan yang paling cocok bagi semua insan seni yang berada dibelahan dunia mana saja. Karena tanpa karya dalam berkesenian sama saja tidak melakukan aktifitas seni itu sendiri.

Hasrat ini ingin sekali ikut bergabung dan ikut serta dalam menciptakan karya, tapi masih ada sesuatu yang mengganjal yang sulit untuk dihilangkan. Menjadi penikmat seni itu memang asyik, tapi Rani yakin menjadi pencipta seni itu lebih mengasyikkan. Saat dimana karya yang berawal dari kanvas/kertas kosong menjadi penuh dengan coretan yang estetik dan dihargai oleh para penikmat seni, momen yang sangat indah. Tapi keinginan Rani sudah terbagi, hati telah mendua. Ada UKM lain yang Rani incar juga. UKS oh UKS, apa yang harus Rani lakukan…..

Leave a comment

Filed under Interest, Princess Babble

Ijinkanlah~

Ini bukan pertemuan kali pertama kita

Ini adalah untuk yang kesekian kalinya

Bukan hal baru bagiku mengetahui kau istimewa

Sudah terlihat sejak semuanya bermula

Tapi untuk detik yang baru saja berlalu

Kau telah benar-benar berhasil memesonaku

Sekali, dua kali, bahkan lebih dari itu

Perasaan aneh berkecamuk dalam hatiku

Pelan berbisik, ijinkan aku menyukaimu

Continue reading

Leave a comment

Filed under Princess Babble

Dimulai dari BAKTI untuk Berbakti #TINAN2014

Sebaris do’a sudah terangkai dari jauh-jauh hari, jauh sebelum jaket almamater hijau berlambang Universitas Andalas ini kupakai bahkan kupegang. “Ya Allah, tuntun dan bimbinglah hamba-Mu ini, kuatkanlah hamba, lancarkan segala urusan hamba…”

Aku harus berbakti kepada orangtua, berbakti kepada masyarakat, berbakti kepada tanah air tumpah darah kelahiran. Tekad yang mengirimkanku ke Universitas terbaik Pulau Sumatera ini, ke tengah-tengah keluarga baru, keluarga besar Fakultas Teknik.

Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya aku akan terdaftar sebagai salah satu mahasiswa Teknik Lingkungan di Universitas Andalas, tidak sebelum masa-masa kritis SMA yang membuatku sempat merasa terombang-ambing oleh beban anak pertama yang akan menempuh masa perkuliahan. Aku mempertanyakan diriku sendiri, sebenarnya apa keahlianku? Apa minatku? Apa bakatku? Semua yang kulakukan selama ini lebih dalam bentuk hobi dibanding keahlian.

Dari SD, cita-citaku yang paling konsisten adalah menjadi seorang dokter. Bahkan aku masih ingat, saat itu aku bermimpi untuk menempuh pendidikan dokter di Universitas Indonesia. Namun semakin bertambah umur dan bertambah wawasan mengenai universitas-universitas lain, hasratku untuk melanjutkan ke UI makin memudar.

Hingga di umurku yang ke-17 tahun, saat menaiki kelas XII di SMA Negeri 1 Batam, dengan mantap aku mengambil keputusan ingin melanjutkan sekolah ke Universitas Andalas. Lalu aku gamang dengan program studi yang harus kupilih selain pendidikan dokter. Apakah arsitek, farmasi, atau apa?

Arsitek, aku senang menggambar,menggambar membuatku merasa segar. Kupikir itu sudah merupakan modal dasar untuk menjadi arsitek. Namun pertimbangan keluarga berkata lain, arsitek itu peluang kerjanya tidak begitu banyak, carilah yang peluang kerja banyak dan mudah di dapat. Baiklah,aku mengurungkan niatku dibidang ini, walaupun kuyakin rezeki itu sudah ada yang mengatur.

Farmasi, kurasa ini adalah pilihan kedua biasa orang yang memilih pendok sebagai pilihan pertama. Tapi lagi-lagi, keluarga yang sangat menyayangiku itu berkata lain. Farmasi itu banyak berhubungan dengan bahan kimia, aku yang dianggap sedikit rentan dipengaruhi oleh lingkungan disarankan untuk mencari jurusan lain.

Setelah mencari,membaca, dan berfikir, akhirnya aku memutuskan untuk memilih teknik lingkungan. Kebetulan aku juga tertarik dalam bidang sanitasi, dan beberapa kegiatan yang pernah kuikuti sebelumnya membuatku merasa bertanggung jawab untuk ikut berpartisipasi dalam mengoptimalkan lingkungan bersih dan sehat.

Apa boleh dikata, ternyata rezekiku ada di pilihan kedua. Aku lulus melalui jalur perjuangan (SBMPTN). Senang? Tentu saja senang, aku masuk di jurusan yang memang kusukai juga. Tidak ada paksaan maupun pengaruh orang lain di dalamnya. Langsung kuhubungi senior semasa SMA dulu yang kemudian menjadi senior kembali di FT Unand dari jurusan Teknik Industri. Dari beliau kudapat info bahwa ada juga senior SMA yang akan menjadi senior kembali di Teknik Lingkungan. Wah, mudah-mudahan ini merupakan salah satu cara Allah untuk melancarkan segala urusan.

Kebetulan ternyata aku punya famili di Teknik Mesin, senior juga.. Beliaulah yang mengajariku naik angkutan umum. Dari beliau aku mendapat sedikit gambaran mengenai kehidupan anak teknik, “Kehidupan teknik itu keras, Ran.. Maka pandai-pandailah bawa diri..”. Hanya tersenyum, itu yang kulakukan saat mendengar tuturannya. Semua orang yang kukenal mengatakan hal yang sama. Memangnya sekeras apa sih? Aku yakin tidak akan jauh berbeda dari kehidupan saat SMA dulu, paling bedanya lokasi menuntut ilmu yang jauh dari rumah sehingga aku harus pergi 2 jam lebih awal dari jam mulai kegiatan. Kalaupun memang benar, maka semoga itu bisa melahirkan karakter baik dalam diriku yang bisa mengantarkanku dalam kesuksesan ke depannya.

Bimbingan Aktivitas Kemahasiswaan dalam Tradisi Ilmiah, atau lebih akrab disebut BAKTI telah selesai dilaksanakan Sabtu kemarin (9 Agustus 2014). Bisa dikatakan Fakultas Teknik adalah fakultas yang paling ‘polos’ diantara fakultas lain. Atribut kami hanya pita biru yang disematkan di almamater sebagai tanda pengenal. Tidak ada ketentuan lain selain baju kemeja putih, bawahan hitam, almamater, dan tas BAKTI serta perangkatnya.

Pembukaan Bakti (6/8/14)

Selama 3 hari kami benar-benar diperkenalkan dengan fakultas teknik dan jurusan masing-masing. Tidak ada senior yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan kami, kecuali saat tur jalan-jalan di jurusan. Tidak ada BAKTI yang “keras” seperti yang dikatakan oleh senior. Hanya training karakter dan pengenalan visi-misi, dosen, matkul, dll.

Aku tinggal bersama nenek di daerah air tawar, sekitar 1½ jam di perjalanan dengan angkutan umum, hati kecil sempat berbisik, “Mau sampai kapan kamu kayak gini terus, Rani.. Sanggup kamu lama-lama kayak gini?” “Maka itu belajarlah yang baik, terus kerja keras, ingat motto hidup yang kamu percayai itu, cepat pulang dan bahagiakan orangtua, PASTI BISA!”

Banyak yang bertanya, kok aku tidak kos/asrama saja? Kalau mereka berada pada posisiku pasti mereka akan melakukan hal yang sama. Nenekku tinggal hanya berdua bersama pengasuhnya. Permintaan beliau lah agar aku tinggal dan menemaninya. Jika memang aku sanggup untuk menjalaninya, maka tidak ada alasan bagiku untuk menolak permintaan tersebut. Toh, bukankah pahalanya menjadi lebih banyak lagi?

Kegiatan BAKTI sudah selesai, sekarang tinggal menjalani proses hingga dapat berbakti kepada orangtua, masyarakat, serta negara kesatuan Republik Indonesia yang tercinta ini. Tetap semangat, terus maju, tanamkan dalam hati bahwa tidak kuliah kalau tidak untuk sukses!

Semangat TL '14 :)

Semangat TL ’14 🙂

Salam Mahasiswa!

Salam Teknik!

2 Comments

Filed under Princess Babble

Makin Sayang Sama Allah :’)

Alhamdulillah, di puasa yang ke 18 kemarin Allah memberikan kebahagiaan kepada Rani sekeluarga dengan mengabulkan do’a kami, tidak mengecewakan kami, benar-benar membuktikan bahwa “The Power of Pray Does Exist!”.

lulusKetakutan dan kegelisahan yang terus menggelayut di hati dan pikiran selama sebulan terakhir terangkat sudah. Setelah gagal dalam SNMPTN undangan kemarin, Rani takut sekali akan gagal untuk yang kedua kalinya. Sebenarnya rasa takut itu lebih ke takut membuat orangtua kecewa, itu adalah beban terbesar mengingat Rani adalah yang perdana untuk melanjutkan studi ke perkuliahan. Tapi Alhamdulillah, Allah memberi jalan kepada Rani untuk membawa senyum di bulan Ramadhan ini, walaupun sebenarnya Rani tau banyak yang berharap Rani lulus di kedokteran, tapi Rani akan meyakinkan bahwa teknik lingkungan ini adalah pilihan Rani juga dan Rani akan mencetak prestasi melaluinya.

Alhamdulillah, senang karena lulus dan banyak juga teman-teman lain yang lulus. Selamat buat kalian, ikut bangga karena mereka bisa lulus di universitas keren dengan prodi yang keren pula. Tapi sedih juga karena masih ada teman lainnya yang harus terus berjuang untuk melanjutkan mencari sekolah. Cuma bisa berdo’a agar mereka dimudahkan dan mendapatkan yang terbaik. Tetap semangat dan jangan putus asa untuk mengejar cita-cita. Kita pernah belajar sama-sama, maka sudah sepatutnya kita sukses sama-sama juga walaupun sudah di jalan yang berbeda.

Jadwal pendaftaran ulang yang sempit membuat Rani dan Mama harus benar-benar mengatur waktu sebaik mungkin. Rencananya tanggal 20 Juli nanti terbang ke Padang untuk mempermudah mengurus prosedur-prosedur yang sudah ditetapkan oleh UNAND. Semoga semuanya berjalan lancar, dan dapat mendatangkan lebih banyak semangat dan kebagiaan kepada keluarga besar. Terima kasih bagi yang sudah mendo’akan Rani, Rani sangat percaya semua ini adalah hasil dari kekuatan do’a kita bersama.

Ya Allah, terima kasih Ya Allah, terima kasih telah mendengar do’a kami. Rani tahu kok Allah memang sayang dengan kami. Rani berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya. Lancarkanlah segala urusan kami dan bimbinglah kami agar selalu berada di jalan-Mu. Aamiin…

Leave a comment

Filed under Princess Babble