Dear Calon Pemimpin Indonesia . . .

Selesai sudah perjuangan Rani untuk masuk PTN melalui jalur ujian tertulis atau dikenal dengan SBMPTN. Tinggal do’a yang terus dikirimkan agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Semoga ini adalah jalan menuju cita-cita yang diidam-idamkan. Amiin…

Banyak hal yang terlintas dipikiran Rani, ingin ikut menyumbangkan tulisan mengenai banyak hal, namun terkendala dengan belajar intensif untuk SBMPTN kemarin. Sekarang, selagi ada kesempatan, Rani ingin sedikit menulis tentang calon-calon pemimpin negara di masa akan datang.

Entah mengapa Rani merasa hari-hari menjelang pemilihan presiden masa bakti 2014-2019 ini begitu ramai dengan beragam kampanye dari yang bening, transparan, sampai dengan kampanye hitam. Dan entah mengapa Rani pun suka mengikuti perkembangannya, walau tentu saja Rani sangat menjunjung ‘fairplay’ dalam pelaksanaannya, jadi Rani amat sangat tidak bangga dengan tingkah laku para fans anarkis yang selalu mencari kelemahan salah satu calon dan menyebarkannya seperti virus yang merusak pikiran para pembaca yang punya temperamen buruk.

Tidak perlu Rani sebutkan, Anda pasti tahu walau tidak Rani beberkan di tulisan kali ini. Mulai dari masalah pelanggaran HAM sampai dibilang pemimpin boneka. Dan hebatnya media menjadi penyalur kreativitas awam yang merasa dirinya suci, cukup suci untuk men-judge orang lain yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya sekalipun.

Indonesia bukanlah negara terbelakang. Indonesia memiliki banyak anak bangsa yang cerdas secara quality maupun spiritual. Hakikatnya manusia mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar, dan mana yang salah. Dan semua agama juga pasti menyebutkan bahwa tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Mata bisa menipu, dalam hati siapa tahu. Itu benar sekali.

Mungkin Rani memang baru lulus SMA, masih anak kemarin sore. Tapi Rani belajar ppkn dari SD. Dan Rani tahu Indonesia itu negara besar, berpulau-pulau lagi, bukan satu daratan yang mudah dijangkau. Ditambah dengan berbagai permasalahan kompleks dan kelakuan rakyat yang menuntut banyak tapi susah diajak kerjasama dengan petinggi negara. Dikira enak jadi pejabat? Di depan dipuji-puji dan dihormati, dibelakang ada hina dan cacimaki. Selalu ada pro dan kontra. Apalagi jadi presiden? Masalah yang harus diselesaikan bukan hanya yang dalam negeri, namun masalah dunia internasional adalah tanggungannya sebagai kepala negara.

Sekarang balik ke calon pemimpin yang kita punya. Satu sibuk dengan ingin menjadikan kembali Indonesia sebagai ‘Macan Asia’, kebocoran SDA dan masalah investasi asing yang merugikan negara. Satunya lagi sibuk dengan ingin membenahi Indonesia dari dalam, dari orang-orang kecil yang tersebar di negara Indonesia yang besar ini, terkenal ‘blusukan’ karena ingin mengayomi dan merangkul mereka yang kasarnya disebut dengan kalangan bawah. Dan visi misi hebat yang telah disusun mantab oleh masing-masing Tim Sukses.

Sekarang inilah yang ingin Rani katakan, DEAR CALON PEMIMPIN INDONESIA~

Karena begitu banyaknya masalah dari kecil sampe raksasa, maka itu Indonesia menganut sistem otonomi daerah, karena ga mungkin pusat bisa menghandle semuanya. Masalah kedaerahan itu bukan lagi masalah yang harus dipikirkan presiden, karena presiden haruslah memikirkan masalah nasional, dan menaikkan derajat negara di kancah internasional. Walaupun memang tidak boleh tutup mata juga. Bukankah karena itu ada jajaran menteri yang ditempatkan di berbagai sektor kehidupan untuk membantu presiden menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi?

Well, kita ini bukan negara sendiri di dunia, kita ini bagian dari masyarakat dunia kan? Kalo presiden ikut mikirin masalah daerah, untuk apa ada gubernur, bupati, walikota? Enak bener jadi pejabat daerah kalo tinggal lenggak-lenggok mengerjakan perintah dari pusat aja? Kalo diprotes tinggal bilang, “kan titah dari pusat”. Dijamin tidak akan ada seorang pun yang mampu menjadi presiden di Indonesia.

Karena itu, siapapun yang terpilih nanti, kalo memang kedua calon punya niat baik dan ikhlas untuk Indonesia, mereka harus saling support untuk memberikan yang terbaik untuk negara tercinta. Toh untuk menyumbang jasa kepada negara bukan harus jadi presiden dulu kan? Rani yakin rakyat tidak sebodoh itu untuk membiarkan pemimpin yang tidak becus untuk memimpin. Para pengamat dan aktivis muda tidak akan tinggal diam bila yang naik nanti membawa dampak buruk untuk negara Indonesia tercinta ini. Jadi tidak perlu pakai taktik menjatuhkan lawan dengan kelemahannya, karena dengan begitu justru akan terlihat kelemahan diri sendiri yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh suara.

Apa yang sudah terjadi biarlah menjadi sejarah untuk dipelajari. Harapan dan semangat untuk mewujudkan semua cita-cita, itu yang dibutuhkan Indonesia sekarang. Tentu saja bukan hanya tugas presiden. Presiden tidak akan ada bila tidak ada rakyat yang mendukungnya. Bila rakyatnya saja tidak mau bekerja sama untuk satu tujuan baik, bagaimana negara mau menjadi lebih baik?

Kalau bagi Rani Indonesia membutuhkan pemimpin yang pengertian, mau mendengar, berani, dan tegas. Bisa mengajak bangsa Indonesia untuk unjuk gigi dan berkata dengan bangga di panggung dunia, “KAMI INDONESIA!”

Leave a comment

Filed under Interest, Princess Babble

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s