6 Tahun Untuk Pengemudi Xenia Maut

Afriani Susanti, seorang wanita berumur 29 tahun yang akhir-akhir ini menjadi terkenal karena ulahnya yang menggemparkan beberapa stasiun televisi mendapatkan ancaman hukuman sampai 6 tahun penjara.

Pengemudi Xenia Maut, begitulah gelar yang didapatkannya setelah menabrak 12 orang di Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Ahad (22/1) pukul 11.12 WIB lalu. Na’asnya, 9 orang tak tertolong dan yang lainnya mengalami luka-luka. Kepala Subdirektorat Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya menduga tersangka mengemudikan kendaraan dengan kecepatan hingga mencapai 70 km/jam dalam keadaan hilang konsentrasi dan oleng.

Setelah menjalani tes urine di kepolisian, Afrianti positif sebagai pengkonsumsi narkoba. Fakta ini jelas menambah pelanggaran lain yang dilakukannya. Tersangka sebelumnya dikeyahui tidak mempunyai surat berkendara yang lengkap. Kedua pelanggaran itu menambah berat kasus utamanya yang menghilangkan nyawa sekian orang.

Afriani dianggap melanggar sejumlah ketentuan hukum, yaitu UU Nomor 22 Tahun 2009 soal Lalulintas dan Angkutan Darat Pasal 283 UU tentang mengemudikan kendaraan bermotor secara tidak wajar atau terganggu konsentrasinya. Lalu, pasal 287 ayat 5 tenang pelanggaran aturan batas kecepatan tertinggi atau terendah dalam berkendara. Terakhir Pasal 310 ayat 1-4 mengenai orang atau kendaraan yang mengakibatkan kecelakaan atau kerusakan mulai dari luka ringan hingga meninggal dunia. Di situ disebutkan yaitu dalam hal pengendara lalai sehingga terjadi kecelakaan yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan hukuman paling lama 6 tahun dan denda maksimal Rp 12 juta. Adapun ancaman hukuman di KUHP malah lebih ringan yaitu 5 tahun penjara, seperti tertuang dalam Pasal 359 KUHP yaitu orang yang menyebabkan matinya orang lain karena kealpannya.

Tapi mengendarai kendaraan dalam keadaan mabuk apakah termasuk dalam kategori kealpaan? Kalau dalam kondisi mabuk, pakai ekstasi, tapi tetap mengendarai, maka pastinya tersangka mengetahui akan risiko dan akibat yang timbul. Tersangka bisa dikenakan pasal pembunuhan, pasal 339 KUHP dengan ancaman 20 tahun penjara atau hukuman seumur hidup.

Tapi ancamannya cuma 6 tahun penjara. Apakah ini merupakan hukuman yang setimpal? Banyak yang tidak setuju dengan hukuman tersebut. Mereka beranggapan bahwa hukuman 6 tahun penjara terlalu ringan untuk seorang sopir maut seperti Afriani.

Semoga keputusan itu akan terus diproses oleh pihak yang berwenang. Tentu sangat diharapkan ketimpalan hukuman atas perbuatan yang telah diperbuat oleh tersangka. Bahkan jujur saja saya sendiri berfikir bahwa hukuman mininal yang pantas diterima oleh tersangka adalah hukuman penjara seumur hidup.

referensi

Leave a comment

Filed under Sekedar Tahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s