Menutup Aurat atau Membalut Aurat ?

Untuk ukhtiku sayang..🙂

Sebagai seorang muslim, pastinya tidak asing lagi dengan yang namanya kewajiban ‘menutup aurat’.

Apalagi para akhwat yang bertitel ‘muslimah’, mati aja lo sana kebangetan banget kalo ga kenal ama yang namanya jilbab. Sedangkan yang nonmuslim aja mengenal kok yang namanya jilbab itu.

Kalau dalam bulan suci Ramadhan, rata-rata pasti bakal make jilbab. Mau yang sebelumnya belum make, apalagi yang udah make. Dimana-mana jadi serasa bernuansa islami. Akhwatnya cantik-cantik, anggun-anggun, dengan berbagai model pakaian dan jilbab yang menutup aurat… Wah, seneeng gitu rasanya. Atmosfernya jadi adem-adem sejuk meneduhkan gimana gituu..

Ini temen-temen sekelas Rani🙂

Tapi ada yang luput dari perhatian. Para akhwat, apalagi kalo akhwatnya anak gahol nih, menutup aurat itu bukan sekedar mengenakan pakaian lengan panjang, betis tertutup hingga tumit, dada dan leher terhalang dari pandangan orang lho..

Misalnya nih, ada yang lagaknya islami, pake jilbab gitu kan.. Baju lengan panjang.. Tapi ga mau dibilang ga gaul. Jadi gamau pake baju yang longgaran dikit, baju adeknya dipake. Baju yang modelnya macam pakaian selam yang ketat nempel di kulit yang dipake. Kesannya kurang bahan gitu .. ckck -.-”

Ini menutup aurat ?

Apa itu menutup aurat?
Ya.. Kan auratnya tertutup semua… Ga ada yang keliatan kok..

Yakin itu namanya menutup aurat?
Yaiyalah… Kan ketutup semua auratnya..

Coba renungi dulu.. Kira-kira pakaian yang seperti pakaian selam itu, menutup aurat, atau membalut aurat ?
Hmmm… 

Coba jawab berdasarkan hati nurani yang paling dalam.

~

ALLAH SWT berfirman yang artinya,

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. ” (QS Al-Ahzab [33] : 59)

Pasti udah sering banget nih baca ayat yang artinya seperti di atas. Tapi pernah ga kamu mencerna apa isi dari ayat tersebut?

Jilbab sejatinya adalah ‘body covering’, penutup tubuh (aurat) yang akan melindungi seorang wanita, dari pandangan dan penilaian orang lain, khususnya laki-laki, dan bukannya ‘body shaping’, pembalut tubuh yang menampilkan seluruh lekuk liku tubuh seorang wanita, membuat orang menoleh kepadanya.

Saat ini, di tangan wanita muslimah masa kini, jilbab itu sendiri adalah perhiasan. Sebagian orang yang mengenakannya justru mengundang orang (baca: laki-laki) untuk melihatnya. Gimana bisa tidak, pakaian tertutup yang serba ketat justru menggoda orang donk? Jadi berkhayal apa yang ada di baliknya. Bukannya su’udzan, tapi sebagai manusia normal, tidak menutup kemungkinan orang yang melihat kita memakai pakaian ketat malah ngayalin yang macem-macem. Na’udzubillah deh..

Coba aja, baju model baby doll yang bisa dikatakan seksi, dipadu dengan manset panjang dan jeans atau bicycle pants super ketat, atau jenis pakaian ketat yang menampilkan lekuk tubuh lainnya. *pasti bisa membayangkan deh, gampang bayanginnya. Ada di lingkungan sekitar sih..

Jika sudah begitu lalu apa bedanya dengan pakaian yang lainnya? Tambahan sepotong kain yang dililitkan pada kepala dan leher yang diibaratkan sebagai jilbab. Aaah, pengen rasanya kutarik tu jilbab, “ga usah pake jilbab lah tante! Merusak nilai jilbab aja.” *esmosi, brrr

Sebagian besar kita justru terlena pada penilaian kebanyakan orang.
“Berjilbab bukan berarti ketinggalan zaman.” Atau, “Dengan jilbab pun bisa tampil modis dan trendi.”

Ga perlu muna, Rani pun terpana, tapi alhamdulillah tak pernah mencobanya. Hanya kagum saja. Jilbab tidak menghalangi seseorang tampil modis. Dengan berbagai gaya, menciptakan sebuah trend yang tidak ketinggalan zaman. Sebenarnya benar, memang berjilbab bukan berarti ketinggalan zaman kok. Kita tetep bisa modis dan trendi, tapi ga perlu pake yang ketat-ketat juga kan? Terkadang memang dibenar-benarkan dengan pihak-pihak tertentu.

Trus Rani juga ga suka satu, kalo make jilbab, asal-asalan. Rambut beserak kemana-mana. Kenapa ga sekalian aja buka jilbabnya? Tanggung amat. -,-”

Islam telah memuliakan wanita, menjaga kehormatan wanita dengan menetapkan batasan-batassannya, bukan untuk menjadikan wanita merasa terkekang, sebaliknya bahkan untuk melindungi kaum wanita itu sendiri.

Tubuh seorang akhwat adalah milik pribadinya, bukan properti umum yang dapat dilirik, ditaksir dan diberikan penilaian.

Sekarang pertanyaannya adalah *apalagi bagi para akhwat yang sudah berjilbab, termasuk saya sendiri*, kita ini menutup aurat atau membalut aurat?

Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan istiqamah di atas ketaatan itu. Amin..

(reference : my mom’s e-mail)

Leave a comment

Filed under ISLAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s