Guru Killerku Sayang (Part FINAL)

Baiklah.. Apa aku dapat menemukan jubah ghaib disini? *disaat panikpun aku masih memikirkan hal yang tidak mungkin. ckck

~

Singkat cerita, pelajaran hari itu sama sekali tidak berjalan dengan lancar. Bukan IPA aja sih, Bahasa Indonesia pun tidak. Karena siswa di kelasku udah larut dengan tangisannya. Guru pun tak dapat berbuat apa-apa. Para siswa terlalu keras kepala untuk berhenti menangis.

Akhirnya jam pelajaran siang itu terlewat sia-sia. Aku pun tidak dapat konsentrasi. Ingin menangis, tapi malu.. Nanti di ejekin pula ama si Faishal. Oya, si Faishal sekarang suka ngejekin aku kalo ada dikiit aja kesalahan yang kubuat.

Kemaren waktu pelajaran IPA aku ada salah ngucap ‘kepala’ jadi ‘kelapa’. Sibuknya diaa, padahal biasa aja kan? Pas pelajaran olahraga lagi, gara-gara aku cepat larinya dibilang kaki tiang listrik ama dia. Ah, bukannya marah, tapi sebel juga digangguin terus.. Ga ada kerjaan lain dia.

“Udahlah Nis.. Kalo kamu mau ikut nangis jangan ditahan-tahan.. Matamu dah merah tuh.. haha” itulah dibilangnya berulang-ulang. Mentang-mentang barangnya ga ada yang di razia.

Lalu kuingat, dulu waktu kelas 7, dia pernah nangis gara-gara ditinggal bis pulang sekolah.. Memang ga ada orang lagi waktu itu, dan aku balik ke sekolah karena ada yang ketinggalan. Aku ga pernah cerita ke siapa-siapa sih tentang ini, soalnya aku waktu itu kasian ama dia. Kalo dia diledekin temen nanti pamor dia ilang pula. Tapi sekarang,

“Aku kan bukan ‘cry baby’ macam dirimu yang nangis gara-gara ditinggal bis.” jawabku ringkas dengan nada agak bergetar.

“Ha?” Faishal tampak bingung. Yah, mungkin dia lupa ato pura-pura lupa. Terserahlah..

~

Sebelum pelajaran jam terakhir (IPA) selesai, Pak Aldi sudah menyudahi pelajaran duluan.

“Sepertinya percuma bapak biacara panjang lebar, tidak ada lagi yang memperhatikan.” matanya menyapu seisi kelas dan berhenti bertatapan lurus dengan mataku. Aku tertunduk.

“Karena itu, kalian harus membuat rangkuman lengkap dengan gambar tentang bab sel syaraf ini dan di pertemuan berikutnya dikumpul.”

Kelas hening. Tidak ada penolakan dan suara keluhan.

“Kalian semua ini kenapa sih? Tumben tidak mengeluh?”

Tidak ada yang menjawab. Akupun diam.

“Kalian mau apa, ha? Mau barang kalian di kembalikan?”

Diam semua. Tidak ada yang menjawab. Sebenernya aku mau jawab, tapi masa jawab sendirian?

“Oh, jadi bukan masalah razia ya?”

“Iya Pak.. Saya mau buku saya kembali.” aku mendengar suaraku sendiri. Semua orang melihat kepadaku.

“Buku?”

“Iya pak.. Buku saya buku Novel Harry Potter.”

“Kenapa kamu bawa novel itu?”

“Bukan saya yang bawa pak.. Temen saya ngembaliin buku itu ke saya sehabis dipinjamnya.”

“Oh..” terdiam sebentar. “Jadi… jadi apa hanya Annisya saja yang mau barangnya kembali?”

“Saya juga pak..” “Saya juga…” “Pak, saya bawa hp disuruh orangtua pak..” kelas langsung ribut.

“Baiklah.. baiklah.. Catat nama kalian di kertas 1 lembar, trus barang yang disita.. Lalu berikan ke saya.”

Temann-temanku langsung mengerumuni mejaku. Tanpa aba-aba, mereka meminta nama mereka kutulis. ‘nah lho, kok aku yang nulis?’

***

Barang teman satu kelasku dikembalikan sepulang sekolah.. Pak Aldi yang mengembalikan. Teman sekelasku terus menerus memuji Pak Aldi sebagai malaikat penolong mereka. Pak Aldi hanya berpesan jangan membawa barang itu lagi karena kalo sampe kena razia lagi, mungkin beliau ga bisa bantu lagi.

Aku.. Makin sayang dengan mantan guru killerku ini.🙂 Baik hatinya makin nampak.

~

Fitri, yang selalu mengatakan ‘ada halangan’ setiap aku dan Suci mengajaknya jalan-jalan. Akhirnya aku mengetahui apa ‘halangan’nya itu. Dia les ! Dan lesnya itu, bersama Pak Aldi !

Aneh bin ajaibnya, tulisan Fitri berubah menjadi lebih rapi dan mudah dibaca.

‘wah.. diapain lu ama Pak Aldi?’

~

Menyingkat cerita, sekarang kami sudah sampai pada akhir tahun ajaran. Aku dan teman selettingku akan naik ke kelas 3 ! Wah, akan menjadi kakak tersenior di SMP !

Sebelum pengumuman, Mam Anggie memanggilku untuk menemuinya di ruang guru.’

“Morning mam.. You call me?”

“Oh.. Annisa.. Here we are..” Mam Anggie tampak mengabrek-abrek isi tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop. Lalu memberikannya padaku.

“What is this mam?”

“This is a gift from me to you..”

“Gift for me?”

“Yeah.. Accept it.”

“But, for what?”

“You will know my reason soon..” senyum Mam Anngie membuatku bingung dan curiga.

‘ada apani? aku ga ultah kok. dan aku juga ga ada menang lomba-lomba. Jadi buat apa? Ah, tapi yang namanya rejeki, bisa datang tak terduga.’

Lalu diluar dugaanku, Pak Aldi juga memanggilku. Kupikir mau kasi gift juga gitu kan.. haha

“Annisa..!”

“Saya pak.. hehe” yah, hubunganku dengan Pak Aldi menjadi sangat baik sejak semester 2 ini.

“Gimana menurut kamu, kamu masih juara gak?”

“Hmm.. Pengennya sih masih pak.. hehe” jawabku sambil sedikit terkekeh juga.

“Apa kamu bisa ngalahin Faishal?”

“Ha?” duh, ga salah nih pertanyaan.

“Ya.. kamu rasa kamu sanggup ga ngalahin Faishal?”

“Ya.. Gatau juga pak. hehe””Kamu ga percaya diri ya?”

“Saya cuma melakukan yang terbaik aja pak.”

“Good.. good.. Semoga sukses yaa..” Pak Aldi mengacugkan 2 jempolnya (jempol tangan, bukan kaki) sambil mengedipkan satu matanya. Membuatku tertawa saja.

“Haha.. InsyaALLAH.. terimakasih pak..”

~

“Juara satunya adalah….” jantungku berdebar keras sekali. Duh, mau copot rasanya. Apakah aku mungkin…..

“Annisya Ul Rafilah.. Anak dari bapak….. dengan jumlah nilai…”

‘tunggu.. tunggu.. tadi namaku disebut ya?’

“Yay ! Our jagoan juara satuuu… Yay !” Fitri dan Suci dan teman-temanku yang lain bersorak. Mereka mendorongku naik ke atas panggung para bintang.

‘Apakah ini hanya mimpi yang indah?’

Begitu kunaik, Pak Aldi, Pak Yusuf, Mam Anggie, dan guru-guru menyalamiku dengan suka cita. Aku tidak pernah bermimpi akan juara satu. Aku tidak pernah bermimpi akan mengalahkan Faishal*. Aku hanya bermimpi bagaimana rasanya bisa memberi yang terbaik untuk semuanya. Dan rasanya indah sekali, sangat membahagiakan.

*(Faishal juara 2)

~

Kelas 3. Kelas baru, teman baru (tapi muka lama), suasana baru, semangat baru, daan… SEPATU BARUUU ! *halah

Aku masih bertemu dengan Pak Aldi. Beliau masih mengajar di kelas 3. Tapi dalam pertengahan semester, Pak Aldi harus meninggalkan sekolah.

“Bapak punya kabar gembira untuk kalian semua..”

Kelas hening.

“Apa tu pak?” akulah yang bertanya. Pak Aldi tersenyum.

“Mulai minggu depan, kalian tidak akan melihat wajah Mister Killer ini lagi.”

Aku terkejut mendengarnya. Yang bikin julukan itu kan, aku..

Tapi sepertinya yang terkejut bukan hanya aku. Hampir seluruh kelas.

“Maksud bapak? Bapak mau pindah?” Amar yang bertanya.

“Ya, bisa dibilang begitu.”

“Yeee….” “Horeee…”

“Seperti dugaan bapak, kalian pasti akan senang.”

Pak Aldi, dia tidak marah untuk hari ini. Bahkan untuk seminggu ini, aku tidak pernah melihatnya marah. Dia jadi murah senyum, dan baik kepada murid. Apa alasannya karena dia mau pindah? Air mataku meleleh tanpa peringatan.

“Ih.. Annisa nangis ?!!” “Annisa nangis woy..” “Knapa Nis?” “Knapa?” kelas gempar karena air mataku meleleh.

“Annisa.. Kamu nangis. Kenapa? Apa kamu begitu bahagianya bapak pindah?” Pak Aldi bertanya padaku.

“Saya.. saya hanya berfikir.. mungkin saya akan merindukan hukuman dari bapak. hah. hahah..” aku bicara agak sengau.

Pak Aldi hanya tersenyum mendengarnya.

~

Memang benar.. Setelah Pak Aldi pindah, aku merasa sekolah agak sepi. Peelajaran IPA pun serasa berbeda. Biasanya senyap dengan aura-aura yang berbeda dari Pak Aldi. Sekarang memang lebih santai, tapi rawan ribut.

Hah.. Memang benar kata orang.. Kita akan menyadari betapa berharganya sesuatu apabila kita sudah kehilangannya.

Btw, ni Pak Aldi memang kayak jelmaan Prof. Snape dalam beberapa bagian. Terlihat jahat, tapi sebenarnya baik.🙂

~

The End

Best Regards, Rani

Originally Post in my FB Notes

2 Comments

Filed under Story-Stories

2 responses to “Guru Killerku Sayang (Part FINAL)

  1. ceritanya mirip kali kyk cerita pak efri.
    wkwkkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s