Guru Killerku Sayang (Part 5)

Itu adalah Mister Killer.

~

“O.. Say.. Saya.. Oh.. Terima kasih ya pak waktu itu udah nolongin adik saya..”

“Oh.. Saya senang bisa membantu..”

Ternyata yang nolongin si Hanafi itu Mister Killer?! Wah, aku berterima kasih sekali ke Mister Killer. Ok, mulai sekarang, aku berjanji tidak akan memanggilnya dengan sebutan Mister Killer lagi.

~

Semester pertama untuk tahun ajaran tahun ini telah selesai. Hari ini hari penerimaan raport.

Semalam aku bermimpi, kalau nilaiku pada ga tuntas, nilaiku jeblok, aku di omelin guru plus mama-papa. Hanafi ngeledekin aku terus. Dan parahnya, si Faishal dengan sombongnya mengibar-ngibarkan raportnya yang penuh dengan angka 9.

Itu mimpi yang benar-benar menyiutkan nyaliku datang ke sekolah. Walau aku pikir nilaiku pada lumayan semua.. Bahkan bisa dibilang tinggi, tapi aku udah pesimis duluan. Gimana kalo mimpi jadi kenyataan? Ga da yang ga mungkin kan?

Singkat cerita, waktu pengumuman juara-juara, aku jadi mules les les gara-gara mikirin mimpi semalam.. Duh, malah mules pula. Go to WC lah kalo gitu. (WC bukan Washington City lho ya.. hehe)

“Juara satu kelas 7.6.. diraih oleh…. anak dari bapak..” terdengar samar dari balik pintu WC.

‘Hah.. Kenapa di saat seperti ini malah mules sih..’

“Juara tiga kelas 7.7….” akhirnya aku keluar aja dari kamar mandi.. karena, gaada yang keluar jugapun. haha

‘ngapain lama-lama di WC, lumutan pula nanti. haha’ aku memang suka melawak sendiri. padahal tak lucu

“Baiklah.. Sekarang kita akan mengumumkan bintang-bintang kelas dari kelas 8. Kita mulai dari kelas 8.1…”

‘wah, kelasku udah mau diumumin tuh.. Ah, paling si Faishal yang juara lagi.’

“Juara 1, diraih oleh.. Faishal Aziz. Anak dari bapak… Dengan jumlah nilai….”

‘nah, bener kan… hmm..’

Aku melihat Mister Killer, bukan, maksudku Pak Aldi, tersenyum dari deretan guru-guru. Dia tidak bertepuk tangan, hanya tersenyum. Kenapa ya? Padahal kan Faishal adalah anak kesayangan Pak Aldi. Selalu dapat dibanggakan, mendapat nilai sempurna di kelas.. Mungkin tangannya lagi sakit kali.

Kalo kupikir-pikir, sekarang kurasa Pak Aldi udah lumayan baik lho.. Nilai-nilaiku di pelajaran beliau pun meningkat walau tak begitu drastis. Ini semenjak aku tau Pak Aldi yang nolong Hanafi, jadi aku sangat berterima kasih. Dan berusaha supaya menjadi lebih baik supaya ga kena marah ato kena hukum lagi sama Pak Aldi. Soalnya sekarang Pak Aldi dah akrab sama papaku.. Nanti ngadu pula kalo aku bermasalah. —

“Juara 2… Amar Ma’ruf.. Anak dari..” tepuk tangan membahana, tapi tak seantusias waktu Faishal maju tadi.

“Juara 3, diraih oleh.. Annisa Ul Rafilah.. Anak dari bapak…” seketika, tepukan keras dan teriakan yang bisa memekakkan telinga mampir di telingaku.

“ANNISA !! KAMU JUARAAA !” Fitri dan Suci berteriak di telingaku.

“Ha?” aku seperti orang bodoh yang kebingungan harus tutup telinga atau lari dari teriakan Fitri dan Suci yang memekakkan telinga.

Lalu kakiku seperti terdorong maju untuk naik ke atas panggung para bintang. Aku sendiri tak percaya, aku juara? Dan, Pak Aldi bertepuk untukku. Padahal dari tadi dia tak ada tepuk tangan ! *nampak kali merhatiinnya

Wah, aku mimpi kah ini? Btw, soal mimpi, mungkin benar kata orang, 99,99% hal yang kita kuatirkan tidak pernah terjadi pada kenyataan. Alhamdulillah.. Yang terpenting sekarang bersyukur dulu..

~

Semester 2, aku makin bersemangat. Aku ntah sejak kapan mendapat pemahaman ini.

‘kalo kita pengen mudah menerima dan mengerti suatu pelajaran, kita harus coba menyukai guru yang mengajar dulu, maka kita akan menyukai pelajarannya, dan setelah itu kita akan menanti-nanti saat jam pelajaran itu’.

Dan sekarang, aku telah menerapkannya. Alhasil, aku selalu menunggu-nunggu jam mata pelajaran IPA !😀

Pak Aldi, lama-kelamaan aku merasa makin baik aja. Wah, makin seneng aku. Aku sendiri sebenernya ga nyangka, seorang guru yang aku julukin ‘Mister Killer’, bahkan Dementor, Profesor Snape, dan parahnya Voldemort, ternyata aku salah menilai. Selama ini mungkin karena aku menutup diri aja, dan ga mau menerima Pak Aldi secara iklas sebagai guruku. Makanya susah aku mendapat ilmu yang bermanfaat dari beliau.

Sayangnya, mungkin hanya aku yang merasa perubahan ini. Atau jangan-jangan bukan Pak Aldi yang berubah, tapi AKU nya ! Wah..

Teman-temanku tetap tidak menyukai Pak Aldi, dan tetap menyebutnya Mister Killer. Walau aku selalu menegur bila mereka menyebutnya di depanku, tapi mereka tetap saja memanggil Pak Aldi dengan sebutan Mister Killer.

~

Pada suatu Rabu, terjadi razia besar-besaran di sekolah.

‘Oh tidak.. Aku bawa buku Harry Potter ?!!’ bathinku terkejut sekaligus panik. ‘Duh, gimana niih…’

Temen-temenku pun sama. Ada banyak yang bawa hp, sedangkan peraturan di sekolah kami memang siswa tidak boleh membawa hp. Tapi yah, harus kuakui, peraturan itu selalu saja ada yang melanggar. Ada juga yang sama denganku, membawa novel, walau hanya novel teenlit yang halamannya udah ada yang robek. Mereka kebanyakan nyari tempat aman buat nyembunyiin ‘forbidden tings’ itu.

Sedang aku, aku hanya duduk diam tak berkutik. Duh, ni buku Harry Potter sebenernya bukan aku yang bawa. Aku ga pernah bawa novel ke sekolah. Soalnya kalo dah dibawa ke sekolah pasti ga bakal pulang dengan selamat tanpa lecet. (Secara gitukan, novel mahal.. Hard cover maan… xD) Seminggu yang lalu Suci ke rumahku minjem buku Harry Potter , jadi dibalikinnya di sekolah hari ini.. Pas pula razia dadakan..

Baiklah.. Apa aku dapat menemukan jubah ghaib disini? *disaat panikpun aku masih memikirkan hal yang tidak mungkin. ckck

~

bersambung

Best Regards, Rani

Originally Post in My FB Notes

Leave a comment

Filed under Story-Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s