Awal Ceritaku Dengannya (Part 2)

~

Ahmad itu… COWOK YANG AKU TEMUI DI TOKO BUKU WAKTU ITU !

Awalnya aku tidak begitu yakin, sudah agak lama. Ntah sudah berapa bulan sejak hari aku bertemu dengannya itu. Tapi aku menjadi yakin 1000 % dari sebuah foto. Ya, fotonya sedang memegang buku“Orang Miskin Dilarang Sekolah” di depan toko buku itu ! Lengkap dengan pakaian yang ia kenakan saat itu, serta senyumannya yang manis itu (aduuh.. haha).

Ntahlah, apa dia tau atau tidak, sadar atau tidak, kalau aku adalah cewek yang waktu itu pernah dibantunya memberesi buku-buku di toko buku. Aku tidak mengatakan padanya. Lagipula aku tidak begitu suka berfoto. Jadi fotoku di fb hanya beberapa, dan itupun sebagian besar adalah tag-an dari teman-temanku. Jadi walau dia melihat-lihat fotoku, aku tidak yakin apa dia mengenaliku. Hei-hei-hei, kenapa aku ini. Bahkan aku tidak yakin apa dia ingat pada cewek yang dibantunya memberesi buku waktu itu. —

***

Hmm.. Dari awal aku belum memberitahu namaku ya.. Rrr, siapa bagusnya yaa.. Karena aku adalah seorang cewek (perempuan), maka anggap sajalah namaku Annisa ya.. Annisa, yang berarti wanita atau perempuan dalam bahasa arab.

***

Ternyata Ahmad itu adalah kakak kelas Bunga di sekolahnya. Seperti yang sudah aku ceritakan di cerita sebelumnya, bahwa aku dan bunga ada di kota yang berbeda. Untuk ibaratnya, aku ada di batam, dan dia di tanjung pinang. Berarti, Ahmad itu adalah orang Tanjung Pinang.

Berdasarkan cerita Ahmad, dia sering ke Batam untuk berkunjung ke tempat tantenya. Dia pernah tinggal bersama tantenya selama 2 tahun waktu dia SD. Ya, dia pernah bersekolah di Batam. Setelah itu dia kembali ke Tanjung Pinang, kembali bersama orang tuanya. Walau kami bisa dibilang baru kenal, tapi dia suka menceritakan tentang kehidupannya. Itu membuatku menyimpulkan kalau dia adalah orang yang terbuka. Tapi mungkin aku salah, karena aku pernah bertanya padanya melalui chat,

“Bang, kita kan kenal baru-baru ini.. Tapi abang sudah banyak sekali cerita tentang cerita kehidupan abang.”

“Hmm, kamu ga suka ya Nisa? Apa mengganggumu? Maaf..”

“Bukan.. Bukan gitu.. Nisa bukan ga suka.. Tapi apa abang memang selalu begitu?”

“Tidak. Abang jarang membicarakan masalah kehidupan abang. Lagian mau cerita kesiapa?”

“Oh.. Sahabat-sahabat abang mungkin?”

“Begini Nisa.. Sahabat-sahabat abang suka bercerita kepada abang tentang masalah-masalah mereka. Abang berusaha mencarikan solusi terbaik bagi mereka. Gini-gini abang juga solution providers nih. hehe.. Tapi entah mengapa abang rasanya tidak cocok untuk menceritakan masalah abang ke mereka.”

“Hmm, maaf, tapi kok abang malah cerita ke Nisa?”

“Abang merasa Nisa cocok sebagai teman abang cerita, hehe.. Gapapa kan? Kalo abang ganggu, bilang aja..”

“Ooh.. haha.. gapapa. Bagus deh kalo gitu.”

“Bagus? Bagus apa nih?”

“Ntah.. Bagus ajalah pokoknya. Haha..” *gaje betul, bzz

***

Makin lama aku dan Ahmad makin akrab. Aku, seorang gadis pra remaja yang sangat merindukan sosok seorang abang, serasa menemukannya di dalam diri Ahmad. Ahmad sudah seperti abang bagiku. Temanku curhat, teman pemberi bantuan saat aku kesulitan dalam pelajaran sekolah, atau bahkan sebatas sebagai temanku bercanda.

Oya, dia pernah meminta nomor hpku, tapi aku tidak memberikannya. haha.. Waktu itu aku baru berteman sama dia di fb. Aku tidak sembarangan memberi nomor hp ke orang yang baru dikenal. Untuk menghindari gangguan yang tidak diinginkan. Tapi sekarang malah rasanya aku pengen tau nomor hp dia, supaya masi bisa komunikasi walau sedang tidak online di fb. Tapi aku gengsi mau minta. Soalnya dia udah pernah minta dan aku ga kasi. Hahahaha

Suatu hari, dia minta sekali lagi. Minta nomor hpku ! Alasannya ya ampun, tidak kusangka. Supaya tetep bisa komunikasi sama aku walau sedang tidak online fb. Wah, kok ni orang seperti tau apa yang aku pikirkan sih.. Hihihi

Tanpa mikir-mikir lagi, aku kasi aja. haha

***

Waktu itu Jum’at. Seharian dia ga OL fb. Hpnya pun ga bisa dihubungi. Mati sepertinya. wah, aku kangen…. Kangen ? haha.. Sepertinya ada yang mulai tumbuh nih dihatiku. Lho..lho.. Haha, nggk lah… Aku cuma kangen sebatas kangen ama seorang sahabat yang biasanya nemenin aku ngobrol tiap hari. Rasanya ga ada temen ngobrol. Kayak ga seru hari itu. Pas pula aku ada mau curhat ama dia waktu itu.

Wah, pokoknya sampe besoknya aku ga denger kabar dari dia. Bahkan aku mulai ada rasa marah. Kenapa sih dia? Kok ga ada kabar gini? Ah !

Sorenya, aku jalan-jalan ke tempat rekreasi OCARINA. Ya, aku jalan sama temen-temenku. Waktu aku ke toilet, aku titip tas ke temenku. Singkat cerita, pas aku keluar dari toilet, temenku itu bilang,

“Nis, tadi ada telfon.” Ya, hpku aku letak dalam tas.

“Telfon? Dasri siapa?”

“Coba cek. Lupa tadi namanya siapa.”

Betapa terkejutnya aku, waktu aku mengecek ‘received calls’ di hpku, ternyata yang nelfon itu AHMAD !

“Bang Ahmad ?! Dia bilang apa aja?”

“Dia cuma nanya ko dimana.”

“Oh.. Trus ko jawab apa?”

“Aku jawab yaa… Ko di toilet. Trus dia nanya apa lagi dirumah? Aku bilang lagi di OCARINA. Trus ya udah, selesai deh percakapannya. Hmm, bang Ahmad itu yang sering ko ceritain itu ya?”

“Iya.”

Aku langsung telfon balik. Tapi ga diangkat-angkat ! Padahal aku nelfon berkali-kali ! Dan bukannya ga masuk lho telfonnya, tapi ga diangkat !! Arrgh ! Aku marah ! Ntah knapa aku marah. Tapi aku segera mengendalikan diri. Untuk apa marah? Mungkin dia sedang ga bisa angkat telfon, atau ga denger telfonnya dering, atau apalah..

Singkatnya, pas aku mau makan bareng temen-temen, hpku dering lagi. Aku udah berpikir itu dari Ahmad. Tapi ternyata dari mamaku yang nanya kira-kira aku pulang jam berapa. Tak lama, hpku dering lagi ! Dan, DARI AHMAD !

Aku jawab,

“Halo, Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumussalam.. Nisa..”

“Ya bang, ada apa? Tadi nelfon kenapa?”

“Rrr, Nisa sekarang dimana?”

“Ha? Lagi makan bareng temen.. Di K**. Tadi abang nelfon mau apa?”

“Abang mau bilang, abang lagi di Batam.”

“Oya? Wah….”

“Hmm, Nisa, abang ga begitu tau OCARINA ini, Nisa bisa ke dekat ‘ferris wheel’ gak?”

“Ferris wheel? Abang lagi disini juga? Di OCARINA?”

“Ya.. Baru nyampe. Kamu kesini bisa Nisa?”

“Ok. Nisa kesana. Udah dulu ya.. Wassalam..”

“Wa’alaikumussalam..”

Ya ampuun.. Untuk kedua kalinya, aku akan bertemu langsung dengannya. Kok aku deg-degan? Duh, kenapa nih aku ni? Langsung aku terbayang oleh senyumnya. Aaaa~ Aku malu sendiri… Tanpa sadar aku merapikan rambut dan bajuku. Eit, aku kan ga suka ama dia.. Aku cuma merasa dekat sebagai sahabat ama dia.. Aku nganggap dia abang, ga lebih. Aduuh…

“Mau kemana Nis?” tanya temanku.

“Ke ferris wheel bentar.”

Aku setengah berlari kesana. Sampai sana, aku mencari-cari sosoknya. Mataku melalang buana ke sekitar ferris wheel.

“Hmm, Nisa ya?”

Aku berbalik ke arah datang suara.

“Sudah abang duga. Hai.. Apa kabar Nisa?”

AHMAD ! Berdiri dihadapanku lengkap dengan senyumnya yang menawan itu ! Aw~

Aku merasa mukaku memerah melihatnya.

“A.. abang..” aku terbata.

“Haha.. Abang senang..”

“Senang? Kenapa?”

“Ternyata dugaan abang benar.”

“Dugaan apa ni?”

“Kamu adalah cewek yang waktu itu pernah abang temui di toko buku. Pertamanya abang ga terlalu yakin, mungkin cuma mirip. Makanya abang mau ketemu kamu pas ke Batam sini..”

Aku terkejut mendengarnya sampai lupa apa yang harus kukatakan.

“Mungkin kamu lupa, tapi abang masih ingat. Waktu itu abang bantuin kamu balikin buku yang jatoh ke raknya. Inget ga?” senyum itu lagi ! Ya ampuun.. Senyumnya yang menawan itu lagi !!

Yang bikin aku kaget, Dia ingat ! DIA INGAT SAMA AKU !

~~~

to be continue

Best Regard, Rani

From My Notes

Leave a comment

Filed under Story-Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s