Arti Pengorbanan Papa

Sekarang sudah beberapa bulan setelah papa pergi meninggalkan kami. Tidak terasa, tapi semuanya berjalan lancar seperti biasa. Papa pergi meninggalkanku beberapa minggu setelah aku masuk SMA. Dan sekarang, aku sudah akan menerima hasil semester pertamaku belajar di bangku SMA.

Yang boleh mengambil rapor adalah orangtua atau wali murid. Waliku biasa adalah papaku, tapi karena sekarang papa sudah tidak ada, maka aku harus menunggu mamaku. Tapi ya, aku harus menunggu agak lama memang, karena mamaku mendahulukan mengambil rapor Vita yang juga diambil hari ini. Sekarang kelasku sudah agak sepi, Hanya beberapa wali murid yang tersisa di dalamnya.

“Heilow… Belom dateng juga ya nyokap lo ?” seorang gadis sebayaku duduk menghampiriku.

“Hei, Bety. Belom nih.. Paling bentar lagi laa.. Dah ambil rapor? Ranking brapa ko?”

“Yah, ranking 13 gue. Pasti di rumah nanti kena semprot dah sama emak gue. Nashib.. Nashib..”

“Haha, dah bagus la tu.. Kira-kita aku ranking brapa ya?” aku membayangkan jikalau aku menjadi urutan terakhir di kelasku, aku pasti akan mengecewakan mamaku.

“Alaa, lo pasti 10 besar la.. Seorang Maya Puri gitu kan.. Ga mungkin ranking belasan..”

“Elee, tak boleh gitu.. Akupun merasa nilai-nilaiku lebih jelek darimu..”

“Haduu, merendah pula, mbak Maya nii.. Bikin saya makin kagum. hahahaha”

Itulah Bety, sahabat baruku semenjak aku duduk di bangku SMA. Orangnya kocak, tapi kao udah serius, bisa bikin kita merinding. Kalo udah debat, bisa bikin mati kutu.

Tak berapa lama setelah aku mengobrol dengan Bety, mamaku akhirnya datang.

“Aduh, sayang.. Maaf ya mama lama.. Tadi mama ketemu temen lama yang udah lama banget ga ketemu.” dari nadanya terdengar mama merasa bersalah, aku tersenyum.

“Gapapa ma, kelas Maya disini ma..” aku mengantar mama ke kelas, dan mama langsung mengambil raporku. Tinggal 3 wali murid ternyata yang masih di dalam kelas.

Saat keluar, aku langsung menanyakan kepada mama tentang rankingku. Mama tersenyum dan memelukku. Aku menduduki peringkat 6 di kelas. Alhamdulillah,.. Lumayanla, cukup ‘surprise’ untuk orang yang pemalas sepertiku. hehe

Akupun pulang bersama mama. Sedari tadi aku bertanya-tanya mengapa Vita tidak bersama mama. Ternyata anak itu bertemu dengan temannya yang kebetulan memiliki abang di SMA ini, dan mengobrol di dekat kolam ikan.

“Vita.. Ayo kita pulang..” panggilku.

“Kakaak…. Putri, lihat.. Itu kakakku.. cantikkan…” Vita berbicara dengan temannya.

“Iya, kakakmu cantik banget Vit. Pasti cocok deh dengan abangku yang keren.” balas temannya.

Aku hanya tertawa.. Setelah berpamitan dengan temannya, aku dan Vita menyusul mama ke mobil. Mama mengajak kami untuk mampir ke tempat papa dalam perjalanan pulang. Vita mengangguk bersemangat, akupun menyetujuinya. Dalam perjalanan, Vita sibuk bercerita tentang pencapaiannya di sekolah. Dia meraih peringkat 3 di kelasnya, dan bangganya bukan main. Aku sudah beberapa kali dipeluknya. Suaranya yang nyaring dan cempreng mendominasi suara-suara lainnya.

“Pasti papa bakal bangga sama aku kalo papa masi ada.. Iya kan kak?”

“Iya, pasti. Dan sekarang papa pasti bangga sama kamu dari surga..”

“hihi.. Vita seneng banget kak..” Vita kembali memelukku.

Sesampai di pemakanan, kami membeli bunga terlebih dahulu. Setelah berdo’a untuk papa, sama seperti sebelumnya, Vita sibuk dengan segala pengaduannya di samping makam papa. Mulai dari pencapaiannya di sekolah, sampai berat badannya yang naik 2 kg. Mama dan aku hanya tersenyum melihatnya.

“Mama ga kerja ya hari ini?” tanyaku. Karena mama terlihat santai dan tidak mengejar waktu.

“Mama cuti hari ini sayang.. Mama bakal masak lagi buat anak-anak mama hari ini.”

“Yee..” aku senang. Aku bahagia.

Waktu perjalanan pulang ke rumah, mama singgah sebentar di laundry langganannya. Karena bosan di mobil, aku mengajak Vita ke mini market dekat situ. Aku membelikan Vita coklat kesukaannya.

Saat keluar dari mini market, tak sengaja aku menendang sebuah bola. Bola itu menggelinding menyusuri jalan raya. Ada seorang anak kecil mengejarnya. Sepertinya masih umur-umur anak TK. Dan ada lelaki paruh baya yang mengejar dari belakang sambil memanggil namanya. Mungkin itu papanya.

Dan aku melihatnya, peristiwa itu untuk sekali lagi. Sebuah kecelakaan di jalan raya yang entah mengapa membuatku seperti melihat masa laluku sendiri. Seorang papa yang mau menyelamatkan anaknya dari maut tanpa memikirkan apakah dia sendiri selamat dari maut. Aku melihat… papaku yang menyelamatkan Vita dalam kejadian itu.

Seketika aku terjatuh ditengah hiruk pikuk yang tercipta karena kecelakaan yang terjadi di jalan beberapa menit yang lalu. Adikku Vita kebingungan karena aku tiba-tiba terjatuh. Dia tidak mengerti apa yang sudah terjadi, karena sedari tadi dia sibuk sendiri mencomot coklat yang kubelikan.

“Kakak, knapa kakak jatoh? Duh, kok orang pada rame-rame ke jalan? Ada apa sih kak?” tanyanya polos, berlulut di sebelahku.

“Tidak apa-apa..” aku merasa suaraku melemah. “Vit, tolong panggil mama, kakak. ….” sebelum aku menyelesaikan perkataanku, semuanya sudah menjadi gelap.

“Lho.. Kakak…. kok malah tidur? Adow… Kakaaak…”

***

“Papa…” aku mengigau..

“Maya, sayang.. Bangun sayang.. Mama disini sayang….”

“Mama?” aku membuka mataku. Terang benderang, mataku belum terbiasa.. Setelah fokusku mantap, aku dapat melihat wajah cemas mama dan Vita si sampingku.

“Kakaak…. huaaa….” tangis Vita memekakkan telinga. “Kakak jahaat.. Kakak bikin Vita takuut.. Vita pikir kakak bakal ninggalin Vita kayak papa… huaa…”

“Vita, Vita.. Ini di rumah sakit sayang..” mama menenangkan Vita. Searang Vita hanya terisak-isak tak bersuara. ‘Ternyata sekarang aku lagi di rumah sakit’ bathinku.

“Maya, gimana sayang ? Pusing? Kenapa kamu kok sampe pingsan, gimana ceritanya?”

“Tadi maya ngeliat kecelakaan di jalan ma…”

“Terus? Kok bisa sampe pingsan itu gimana?”

Aku terdiam. Apa aku harus memberi tahu mama?

“Sayang?” mama membelai rambutku. Aku tak bisa diam lebih lama. Air mataku meleleh.

“Tadi Maya liat kecelakaan ma.. Dan.. dan.. Maya melihatnya seperti kecelakaan waktu itu ma.. Kecelakaan, waktu .. waktu papa meninggalkan kita selamanya..” Aku menangis dalam belaian mama. Mama memelukku, sedangkan Vita masih terisak sendirian di tempat duduk penunggu.

“Sayang… Mama mengerti.. Kamu harus tenang ya.. Kamu harus menerima kepergian papa dengan ikhlas.. Mama bukannya nyuruh kamu melupakan kejadian itu, sayang.. Tapi jangan terlalu kamu ingat-ingatlah kalo hanya mengganggu kamu.. Ya..” mama membelai rambutku kembali. Aku hanya mengangguk..

Saat mau pulang dari rumah sakit, aku melihat anak yang mengejar bola tadi. Dia menangis dipangkuan seorang ibu, mungkin mamanya.Itu berarti papanya dibawa ke rumah sakit ini juga. Selang beberapa detik, dokter keluar dari pintu UGD.

“Alhamdulillah, pak Amri masih bisa kami selamatkan, bu.. Beliau telah melewati masa kritisnya. Pak Amri akan kami masukkan ke ruang ICU untuk pemulihan secara keseluruhan.” dokter itu memberitahu ibu itu. “Syukurlah… Terima kasih dokter.. Adit, ayahmu selamat nak..” ibu itu memeluk anak kecil yang dipanggilnya Adit itu.

Aku tersenyum, Alhamdulillah.. Anak itu masih kecil, nashibnya lebih beruntung daripada aku, Vita dan mama. Sekejab aku merasa iri, tapi aku langsung istighfar. ‘Astaghfirullah, aku ga boleh gitu..’ bathinku lagi.

Dalam perjalanan pulang, Vita tertidur di mobil. Hening sepanjang perjalanan. Hanya suara radio yang terdengar, lagu-lagu klasik dari Mozart. Lalu tiba-tiba terbersit di pikiranku untuk bertanya dengan mama, “Ma, kenapa ya seorang ayah itu lebih mementingkan keselamatan anaknya dibanding keselamatannya sendiri?” aku merasa pertanyaanku ini adalah pertanyaan bodoh, karena mama tersenyum mendengar pertanyaanku ini.

“Entah kenapa, mama merasa kamu sudah tau jawabannya.” mama masih tersenyum saat menjawab itu.

“Apa hanya karena sebatas kewajiban?” tanyaku.

“Sayang, bagi seorang ayah, keluarga itu adalah hidupnya. Sama juga bagi seorang ibu. Sekarang ini seperti yang kamu tau, harapan orang tua itu terletak pada anaknya. Maka orang tua yang sebenar-benarnya pasti akan menjaga anaknya walaupun itu beresiko tinggi. Papamu adalah salahsatunya. Dia bukan hanya menyelamatkan anaknya, namun juga menyelamatkan hidupnya sendiri. Mungkin bila dia tidak melakukannya, dia akan menyesal seumur hidup. Maya mengerti maksud mama?”

Aku merenungkan jawaban mama. “Papa adalah papa terbaik di dunia. Iya kan ma?”

“Bagi mama, papamu adalah lelaki terbaik di dunia.” mama tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya.

Hari ini aku menjadi mengerti, pengorbanan papa bukanlah pengorbanan biasa. Beliau memilih jalannya untuk menyelamatkan hidupnya sendiri, keluarganya.

“Sekarang Maya mengerti arti senyumanmu pa.. Senyuman terakhir darimu yang kulihat. Senyuman sebelum kau menghembuskan nafas terakhirmu. Senyuman harapan yang kau berikan kepada anak-anakmu.”

Burung-burung berterbangan membentuk formasi-formasi alam, menambah keindahan langit senja saat itu..

~

KhaiRani

………………………………………………………………..

cerpen yang berhubungan : Bumbu Cinta Mama

………………………………………………………………..

source : myfacebooknotes

Leave a comment

Filed under Story-Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s