Bumbu Cinta Mama

Sabtu itu, aku baru pulang sekolah. Bukannya melepas lelah dirumah, malah panas-panasan di bawah pohon yang agak teduh ini (tapi sama aja masi panas). Siang itu panasnya benar-benar membuatku berasa ingin berendam di dalam bak mandi yang berisi air ‘full’. Kalau bukan karena mama menyuruhku untuk menjemput Vita, adikku yang baru kelas 3 sd, maka aku lebih memilih mengisi waktuku untuk menyendiri dalam kamar dan bercengkrama dengan laptopku sambil mendengar musik-musik klasik yang menghanyutkan.

Duoh, lama banget si Vita ni. Kering aku nunggu dia,” omelku dalam hati.

Tak lama kemudian, ada sepasang tangan yang memelukku dari belakang yang hampir membuatku terjatuh dari motor tempatku duduk menunggu.

Kakaaaak… Haha, kakak nungguin aku ya.. Makaci kakaak.. Ayo kita pulang” dengan tak pekanya si pemilik suara langsung menaiki motor dalam posisi penumpang dan membuat motornya oleng.

Suara itu, suara yang amat sangat kukenal. Nyaring, cempreng, tapi manja. Tak lain tak bukan adalah….

VITA ! Eh, kakak mau jatoh tauk ! Untung tak jatoh kan.. Kamu ni sembarangan aja asal naik-naik.”

hehe, maap. Maap deh.. Kakak kan baik maapin Vita yaa… Kakak cantik deh.. hehe” rayunya dengan manja.

Seperti biasa, aku tak bisa terlalu marah padanya. Nada suaranya yang manja dan sifatnya yang kekanak-kanakan membuatku merasa tak tega.

Halah, kamu ini. Ya udah, duduk yang bener. Nanti jatoh pulak.” aku hanya tersenyum saat sepasang tangan yang tadi hampir membuatku jatuh itu melingkar agak erat di pinggangku.

***

Mama sayaaang… Hari ini masak apa ma ?” terdengar nyaring suara Vita sampai keluar rumah.

Aku pun masuk ke rumah setelah memastikan bahwa motor sudah aman ditinggal di luar rumah. Dan tentu saja, tujuanku adalah ke tempat favoritku, yaitu kamarku. Hehe.

Eh, anak mama udah pulang. Mana kak Maya?”

“Ke kamar mungkin, ma. Masak capcai ya ma?”

Iya, mama bikin capcai nih.. Hmm, pasti enak deh kalo dimakan baru masak gini.”

Haha, Vita laper nih maa.. temennya apa?”

Uu~ ikan kakap goreng saos donk..”

Waaa~ Vita mau makan.. Vita mau makan…” sayup terdengar dari kamarku.

‘tok tok’ “Maya.. Makan dulu sayang..” suara mama yang lembut terdengar dari balik pintu kamar.

Nanti aja ma.. Maya pasti makan nanti..” sahutku malas,

Ayolah sayang.. Jarang-jarang kita makan sama-sama. Masa waktu ada kesempatan kita lewatin gitu aja.. Makan yuk sama-sama..”

Iya ma, Maya keluar bentar lagi. Maya selesein kerjaan Maya dikit lagi.”

Ya, memang. Semenjak peristiwa itu, keluargaku seperti kehabisan waktu untuk berkumpul bersama. Mungkin itulah yang menyebabkanku menjadi cuek dan suka menyendiri, sedangkan Vita menjadi anak manja dan suka mencari perhatian. Peristiwa itu, yang memisahkan aku, Vita dan Mama dari Papa. Kejadian yang membuat Papa harus pergi meninggalkan kami selamanya. Akan kuceritakan lain waktu.

***

Waa, kenyang betul Vita ni.. Mama ni memangla jago betul masaknya. Coba tiap hari mama masak kayak gini, pasti aku cepet gendut. Hehe, Makasi ya mama” dengan manjanya Vita memeluk mama dan mencium pipi mama sehingga saos ikan yang bercelomotan disekitar mulutnya berpindah ke pipi mama.

Aduh, Vita, liat nih, pipi mama jadi makin cantik gara-gara kamu.. Bersih-bersih dulu sana.” kata mama sambil mengelap pipinya dengan tisu yang ada di atas meja.

hehe, maap mama. Tapi mama makin cantik deh. Hehe” Vita pun ngacir ke wastafel sebelah meja makan untuk membersihkan sisa-sisa saos yang masih menempel di sekitar mulutnya.

Gimana ikannya sayang?” mama bertanya padaku.

Enak ma. Maya seneng banget makan kalo mama yang masak. Beda pokoknya sama makanan kalo orang lain yang buat. Masakan mama paling TeOoPe BeGeTe deh pokoknya. Apa sih rahasianya ma ?” aku mulai mendapatkan kedekatanku dengan mama lagi.

Iya ma, apa sih rahasianya?” Vita nimbrung tiba-tiba.

Rahasianya itu… hmm, apa ya rahasianya…” mama mulai membuatku dan Vita penasaran. “Apa ya rahasianya.. kasi tau gak ya…”

Iiiih, mama ni buat penasaran laa..” kata Vita tak sabar. Aku mengenang masa-masa lalu, mama memang suka membuat aku, Vita dan juga Papa penasaran. Mama ahli dalam bidang itu. Haha

Ok deh, rahasianya itu karena kita makannya sama-sama.. haha.. Iya kan ?”

Yeeh, bukan itu maksudnya maa.. Maksud Maya tu dalam bumbunya gitu, ato cara pembuatannya ada yang spesial…”

Iya ma, maksud Vita juga gitu..”

Hmmm” sejenak mama terlihat berfikir. “Ada sih bumbu yang spesial. Pokoknya mama selalu pake bumbu itu kalo masak di rumah. Apalagi buat anak-anak mama tercinta.” senyum mama yang khas menghisasi wajahnya yang berparas cantik.

Apa itu ma? Apa itu ma?” “Kasi tau donk ma..” “Ayolah ma, jangan buat penasaran..” aku dan Vita terus mendesak mama untuk memberitahu bumbu apa yang mama maksud itu.

Bumbu yang mama maksud itu adalah……’ hening sejenak

‘.. bumbu cinta sayang..” sekali lagi senyum itu menghiasi wajah mama. Aku sangat menyukai senyum itu. Dulu aku sering melihatnya, namun sekarang sudah amat sangat jarang. Lebih tepatnya, aku selalu merindukan senyum itu di setiap kesempatannya.

Bumbu cinta?” tanya Vita polos.

Iya sayang, bumbu cinta. Mama memasak itu dengan sepenuh hati, penuh kasih sayang, penuh dengan harapan, keikhlasan, dan do’a. Semoga mama diberi lebih banyak kesempatan lagi memasak untuk kalian sayang..” mata mama basah. Titik air mata bergulir di pipinya.

“Mama nangis ya?” Vita mengusap air mata di pipi mama.

Mama menangis bahagia sayang, mama sangat merindukan saat-saat kita berkumpul seperti ini.” Mama memeluk Vita dengan erat. Selang beberapa detik tersirat kesedihan di wajah mama. Aku mengerti perasaan mama. Aku juga merasakan hal yang sama.

Sini sayang, peluk mama..” mama membuka satu lengannya memberi ruang untukku ikut dalam pelukan keluarga ini. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menyambut ruang itu dan merasakan pelukan yang sudah agak lama tak kurasakan.

Coba papa masi ada ya ma..” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa kukendalikan. Seketika itu atmosfer ruang makan berubah. Isak tangis Vita mulai terdengar. Mama terdiam. “Maafin Maya ma, Maya ga bermaksud buat…”

Ssst, gapapa sayang. Bener kata kamu. Coba papa masih ada, pasti dia bakal ngejek kita cengeng deh.. hehe.. jangan nangis sayang, nanti papa tertawa pula di surga ngeliat kita nangis” mama mengusap air mataku dan Vita sambil tersenyum menenangkan.

Mama…” aku pun memeluk mama dengan erat.

Tau ga sih, pertama kali papa kalian itu jatuh cinta sama mama karena masakan mama lho.. Katanya dia belum pernah makan masakan seenak masakan mama.”

Ah, gombal aja tu ma. Papa kan suka ngegombal..” Vita nyeletuk saat mama bercerita. Dan celetuknya itu mengundang tawa ku serta mama. Vita pun ikut tertawa.

Alah, kamu inget ga Vit, waktu kita makan di warung makan sebelah klinik Primadati, papa sampe nangis karena kepedesan makan ayam yang dimasak ijo itu..” lanjutku.

Haha, iya iya.. waktu itu…………..” “hahaha” “iya iya iya.. terus…..” “hahaha”

Cerita pun berlanjut sampai sore. Kami bercanda dan tertawa mengingat-ngingat masa-masa lalu yang indah.

Ya ALLAH, semoga momen seperti ini tidak akan pernah hilang dalam hariku kedepannya. Walaupun aku menyadari, akan sangat banyak halangan yang akan merintang di depan, tapi paling tidak masih akan ada hari-hari seperti ini untuk kedepannya.

ilustrated by khairani

~
khairani

-> Rani rencananya mau buat series. Banyak cerita yang berbeda dalam beberapa seri, tapi tokoh2nya tetap sama.🙂

Mohon kritik dan sarannya yaaa~ Jempolnya juga kalo boleh. hehe

1 Comment

Filed under Story-Stories

One response to “Bumbu Cinta Mama

  1. Pingback: Arti Pengorbanan Papa | Princess Babble ~ ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s