Serangga Tertua Di Dunia

Serangga.. Siapa yang tidak tahu jenis binatang satu ini. Serangga merupakan binatang yang mudah kita temukan di belahan dunia manapun… Binatang yang tidak terhalang oleh batas benua dan batas samudra, binatang yang mudah menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Bahkan disekitar rumah kitapun, dapat ditemukan berbagai macam serangga…

Nah, kali ini kita akan membahas serangga yang kita semua kenal sebagai “Capung”… Serangga ini juga dapat kita temukan di belahan dunia manapun ! Di Eropa, Amerika Utara dan Selatan, bahkan di daerah panas seperti di benua Afrika. Saking banyaknya, serangga ini dikenal dalam berbagai bahasa di dunia. Dalam bahasa inggris di sebut dragonfly, orang Spanyol menyebutnya libelulas, orang Filipina menyebutnya tutubi, orang Turki menyebutnya yusufçuk, bahkan orang Jawa juga punya sebutan sendiri, yaitu kinjeng atau coblang.

Hmm… Sebenarnya apa sih, yang membuat capung sangat menarik perhatian Rani untuk dibahas? Ini dia alasannya…

Pertama, coba kita melihat kembali ke masa lalu. Jauh sebelum manusia ada. Lalu ke masa yang lebih lama lagi, saat dinosaurus pun belum muncul sebagai penguasa dunia…! Masa yang dikenal oleh para ahli purbakala sebagai zaman carboniferous, yaitu sekitar 360 hingga 250 milyar tahun yang lalu. Bayangkanlah zaman itu sebagai zaman yang tenang… Dunia yang dipenuhi tumbuhan-tumbuhan purba! Dimana tak terdapat seekor hewan pun yang lebih besar dari serangga…  Benar-benar surga bagi serangga !

Dan saat itulah hidup nenek moyang capung! Memiliki bentuk yang tidak berbeda dengan capung yang sekarang kita kenal. Bentuk tubuh yang panjang dan runcing seperti batang pensil… Dilengkapi empat helai sayap transparan, serta memiliki warna yang menarik. Nenek moyang capung ini dinamakan drlitzschala bitterfeldensis.

Fosil capung purba

Okee… Sekarang kita tahu, bahwa serangga ini ternyata jauh lebih tua daripada dinosaurus. Hal ini yang tak banyak diketahui orang. Bahkan kaum capung sendiri barangkali tak menyadari, bahwa spesies mereka telah melewati rentang waktu yang begitu panjang…  Walaupun serangga yang mengagumkan ini mudah ditemukan dimanapun, namun banyak orang tetap merasa kagum dan penasaran akan tingkah lakunya… hingga ilmuwan pun akhirnya memutuskan untuk menyelidiki serangga ini secara besar-besaran. Adalah Martin Wikelsky, seorang ahli ekologi asal univ. Princeton, New Jersey, Amerika Serikat yang memiliki ide untuk menjalankan proyek ini.

Di dunia ini tersebar sekitar 5700 jenis capung… Dan 50 diantaranya melakukan migrasi (berpindah tempat hidup) saat musim dingin! Sama seperti burung… Bedanya, capung hanya melakukan migrasi sekali jalan! Tidak seperti burung yang selalu kembali lagi ke habitat aslinya setelah melakukan migrasi. Dalam risetnya, Wikelsky bersama timnya melakukan perjalanan selama 14 hari untuk mengikuti penerbangan capung. Mereka bahkan sampai menggunakan pesawat terbang! Hal ini karena capung yang di ikuti dapat terbang hingga 60 km! Waow! Bahkan salah satu capung sanggup terbang lebih jauh… Hingga mencapai pulau yang jaraknya ratusan km dari tempat asalnya. Menakjubkan !!!

Seperti telah diketahui, makanan capung adalah nyamuk, lalat, kupu-kupu, dan juga serangga lain seperti walang sangit. Nah, berapa banyak energi yang dibutuhkan seekor capung untuk melintasi pulau? Padahal tidak mungkin capung dapat memperoleh sumber makanan seperti itu saat terbang di atas lautan. Ternyata satu-satunya jawaban yang mungkin dapat dipercaya adalah, bahwa capung terbang dengan memanfaatkan gaya angkat dari angin. Sehingga saat capung bermigrasi tidak membuang banyak energi. Seorang ahli ekologi lain yang bernama Daniel Soluk dari univ. Dakota Selatan, Vermillion, Amerika Serikat lebih tertarik dalam pelestarian serangga ini.

Capung yang dikenal dengan nama Hine’s Emerald (somatochlora hineana) merupakan salah satu jenis capung yang telah terancam punah. Capung ini mempunyai ciri mata berwarna hijau zamrud, tubuh yang tampak berkilat. Dan memiliki garis berwarna kuning dibadannya. Capung jenis ini hanya dapat ditemukan di beberapa kota di Amerika Serikat. Seperti Illinois, Michigan, Missouri dan Wisconsin. Capung ini justru hidup di habitat hewan yang biasanya memangsa mereka, seperti udang crayfish.. Capung ini bersembunyi di lubang-lubang persembunyian udang crayfish pada saat musim dingin tiba.

Hine's Emerald

 

udang crayfish

Namun yang mengherankan, mengapa udang crayfish tidak memangsa saat capung bersembunyi di lubang itu?? Sungguh mengherankan.

Mungkin mereka mengeluarkan suatu bau yang membuatnya dijauhi oleh pemangsanya…

Capung merupakan serangga tertua yang terbukti dapat hidup hingga 350 milyar tahun! Dan mungkin akan tetap hidup hingga dunia ini berakhir… Sudah selayaknya kita sebagai makhluk berakal di muka bumi, mengambil tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya..

1 Comment

Filed under Sekedar Tahu

One response to “Serangga Tertua Di Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s