Too Late For Tears

Ketika ajal mengetuk pintu kamarnya..

“Siapa yang mengetuk itu?” tanya seorang pria yang bangun ketakutan.

“Aku adalah malaikat Izrail, biarkan aku masuk!” jawab sosok yang mengetuk.

Saat mendengar jawaban itu, orang yang ketakutan itu mulai menggigil sampai berkeringat dalam demam yang mematikan.

Dia berteriak kepada istrinya, “Jangan biarkan malaikat itu mencabut nyawaku ! Oh Malaikat Maut, saya belum siap mati. Keluarga saya, tergantung pada saya. Berikan saya kesempatan untuk tetap hidup dan memperbaiki diri.”

Malaikat mengetuk lagi ..

“Wahai manusia, aku datang untuk mencabut nyawamu, dan aku datang bukan dengan kehendakku sendiri.”

Bingung, orang itu mulai menangis. “Oh malaikat, saya sangat takut mati, biarkan saya tetap di sini.. Jangan kirim saya ke liang kubur.”

“Biarkan aku masuk, wahai manusia. Buka pintunya ! Bangunlah dari tempat tidurmu ! Engkau tidak dapat menghentikan ku datang, malaikat dapat menembus penghalang, tebal ataupun tipis. ”

Pria itu memegang pistol di tangan kanan dan bersiap untuk mengarahkannya ke malaikat.

“Saya akan menembak kepalamu jika kamu berani masuk. Saya akan tembak kamu sampai mati ! ”

Dan sekarang, malaikat Izrail sudah ada di sudut ruangan itu, dan berkata, “Wahai manusia, bersiaplah untuk menerima adzab ALLAH ! Manusia bodoh,  malaikat tidak mati hanya karena ditembak manusia. Mengapa kamu takut? Katakanlah wahai manusia. Apa kau takut untuk mati sesuai dengan takdir ALLAH? ”

“Oh malaikat, saya malu, malu sekali. Saya tidak punya waktu untuk mengingat asma ALLAH. Dari fajar hingga senja, saya hanya mencari kekayaan. Bahkan tidak sama sekali untuk merawat kesehatan rohani saya. Segala perintah ALLAH tak pernah saya ta’ati, mulai dari shalat fardhu yang lima kali sehari, bulan Ramadhan yang datang dan pergi tapi tak saya gunakan untuk bertobat. Ibadah haji yang sudah diwajibkan atas diriku, tapi saya tidak mau mengeluarkan uang saya. Semua amal saya abaikan dan suka mengambil riba yang berlebihan. Kadang-kadang saya mabuk-mabukan, sambil menggoda perempuan dan mengajaknya duduk untuk makan bersama. Oh malaikat, saya butuh pengertianmu, perpanjang hidup saya selama satu atau dua tahun saja. Ketentuan Al Qur’an akan saya patuhi, saya akan mulai Shalat dari hari ini. Secepatnya saya akan menyelesaikan Haji, dan menjauhkan diri dari kesombongan diri. Saya akan menahan diri dari riba, dan memberikan semua harta saya untuk amal yang baik. Anggur dan perempuan yang melanggar hukum ALLAH, akan saya benci. Tolonglah malaikat.”

“Aku hanya menjalankan tugas yang diberikan ALLAH kepadaku.”

Malam itupun, pria itu mengalami sakaratul maut yang merenggut nyawanya.

“Kami malaikat hanya melakukan apa yang diperintahkan ALLAH, kami tidak kuasa melawan perintah-Nya. Kematian adalah takdir yang akan dirasakan oleh semua orang. Aku takut, saat ini adalah saat terakhirmu. Sekarang renungkanlahlah masa lalumu. Aku  memahami kekhawatiranmu. Tapi sekarang sudah terlambat untuk menangis. Selama kamu tinggal di dunia ini, orang tua yang didurhakai, lalu pengemis yang kelaparan, tak kamu hiraukan. Daripada menjadi sosok Muslim sebenarnya, kamu lebih memilih untuk menjadi seorang yang ingkar. Kamu mengabaikan Azan (panggilan untuk shalat) dan juga tidak membaca Al-Qur’an. Terus berdusta dan ingkar janji seumur hidupmu, bergosip, menyebar fitnah dan menyebabkan perselisihan. Selalu menghalalkan segala cara mendapatkan keuntungan besar, dan berbuat curang. Melakukan hal yang tak penting mengisi waktu luangmu, kamu mendewakan uang dalam hidupmu. Tanpa itu tak dapat hidup katamu. Bahkan untuk sebuah sumbangan kecil, tidak pernah kamu berikan. Kamu pikir kamu pintar dan kuat. Tapi asal kamu tahu, kamu hanyalah gudang dosa yang hidup. Mengharapkan surga untukmu? Aku tidak berharap kamu lolos dari siksa neraka. Tidak ada lagi waktu bagimu untuk bertobat, aku akan mengambil nyawamu ketika aku diutus, dan tidak ada tawar-menawar lagi.”

~~~

Karena itulah saudara/i Rani semua yang Rani sayangi.. Entah mengapa yang namanya penyesalan selalu datang terlambat. Jangan sampai kita merasakan penyesalan yang dalam di saat-saat terakhir hidup kita.

When it was our last then we regret, know it, It was too late for tears.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s