Pendam atau Nyatakan ya ?

Siang ini, ada teman Rani yang bertanya dengan Rani.

“Nis, dalam Islam sebenarnya nyatain perasaan itu boleh ga sih?”

“Yaaaa, gimana ya.. Bukannya ga boleh. Tapi kalau membawa mudharat, lebih baik ga usah.”

“Tapi aku pernah baca, ‘..Barangsiapa yg jatuh cinta, lalu tetap menjaga kesucian dirinya, menyembunyikan rasa cintanya, dan bersabar hingga mati, maka ia mati sebagai syahid..’ Kan enak mati syahid.”

“Baca dimana ?”

“Ntah, lupa dimana. Pokoknya itu hadits.”

“Hmm, aku cari infonya dulu ya..”

~~~

Nah.

Sebenarnya boleh gak sih mengungkapkan perasaan suka atau perasaan cinta kita ke orang lain [lain jenis lho tapi orangnya] ? Bolehkah seorang cewek bilang cinta ke cowok atau cowok bilang cinta ke cewek ? Bagaimana Islam memandang persoalan ini? Adakah larangannya dalam Al-Qur’an dan Assunnah ?

Yuk, kita bahas sama-sama. Sampai saat ini belum di temukan dalil larangan khusus untuk larangan mengungkapkan perasaan cinta atau suka kepada lawan jenis.

Beberapa ustadz atau pemateri yang mengisi sebuah acara seperti jama’ah ta’lim, talk show, atau tabligh akbar yang bertemakan cinta sering kali menyitir hadits berikut ini.

“Barang siapa yang jatuh cinta, lalu menyembunyikannya dan memelihara kesucian dirinya serta bersabar sampai dia meninggal dunia, maka dia adalah seorang yang mati syahid.” *seperti yg dibilang teman Rani tadi*

atau,

“Barang siapa yang jatuh cinta, lalu menyembunyikannnya dan menahan diri dengan penuh kesabaran, niscaya Allah akan memberikan ampunan baginya dan memuaskannya ke dalam surga.”

dan hadits berikut,

“Barang siapa yang jatuh cinta, lalu menahan dirinya hingga meninggal dunia, maka dia syahid.”

Dengan dalil-dalil tersebut para ustadz dan pemateri tersebut mengatakan, “Makanya kalo kamu-kamu lagi jatuh cinta ngga perlu deh bilang-bilang ato ngungkapin perasaan kamu, tahan aja. Kalo itu berhasil kamu lakuin terus bikin kamu meninggal, ganjarannya syahid tau! Langsung masuk surga alias shortcut to heaven!”

Dengan hadits-hadits tersebut maka mereka jadikan “larangan” atau setidaknya sebagai keutamaan untuk tidak mengungkapkan perasaan cinta, cukup dipendam saja, kalau dibawa sampai mati, matinya mati syahid. Setidaknya, begitulah katanya.

Nah, tapi benarkah hadits ini bisa diterima? Berderajat hasan atau shahih kah? Mari kita lihat pendapat Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, seorang Ulama yang dikomentari oleh Al-Imam Burhanuddin Azzar’iy, “Di kolong langit ini tiada seorang pun yang lebih luas ilmunya daripada Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah”. Tentang hadits-hadits tersebut. Ibnul Qayyim dalam kitabnya Thibbun Nabawi (Pengobatan Nabi) dalam Bab Petunjuk Rasulullah SAW untuk Mengatasi Penyakit Asmara berkomentar,

“Jangan tertipu oleh hadits palsu yang mengatasnamakan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Suwaid bin Said, dari Ali bin Mushir, dari Abu Yahya Al-Qattat, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dari Nabi, diriwayatkan pula dari Aisyah dari Nabi.”

Nah, sekarang kita bahas tentang syahidnya.

Syahid adalah kedudukan tertinggi di sisi ALLAH, disejajarkan dengan kedudukan Shiddiqiin. Kedudukan ini harus dicapai dengan amalan dan kondisi tertentu yang merupakan syarat mutlak. Syahid ada dua macam : syahid umum dan syahid khusus. Syahid khusus adalah syahid fi sabilillah. Syahid umum ada lima, disebutkan dalam sebuah hadits shahih, dan mati karena tertikam panah asmara tidak termasuk di dalamnya. Karena panah asmara bisa merupakan syirik terhadap ALLAH dalam cinta, merupakan hasil kealpaan terhadap ALLAH serta membiarkan hati, jiwa dan cinta menjadi milik selain ALLAH. Maka bagaimana mungkin ia termasuk kedudukan yang mendatangkan mati syahid? Coba deh pikirkan.

Bahaya panah asmara terhadap hati melebihi sesuatu. Ia bahkan dapat disebut sebagai khamrnya rohani yang menyebabkan jiwa mabuk kepayang sehingga menghalanginya untuk berdzikir kepada ALLAH. Hati orang yang dirundung asmara akan menjadi hamba kekasihnya. Cinta kasih itulah yang mengoptimalkan rasa tunduk, kecintaan dan kepasrahan mendalam. Bagaimana mungkin ketundukan hati kepada selain ALLAH dapat membawa seseorang kepada kedudukan mulia di kalangan ahli Tauhiid, di kalangan pemuka dan orang istimewa di antara mereka.

Dalam kitab yang lain yang juga ditulis oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, berjudul Rawdhatul Muhibbin wa Nazhatul Musytaqiin (Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Rekreasi Orang-orang yang Dimabuk Rindu) beliau berkomentar tentang hadits tersebut dengan senada, hadits-hadits tersebut bukan dari Rasulullah SAW.

Saya pun tak habis pikir kalau hadits-hadits tersebut bisa diterima alias berderajat Hasan atau Shahih. Saya punya tiga alasan logis mengapa berkata seperti itu:
*mari kita simak dengan seksama (y)*

Pertama, seandainya hadits tersebut bisa diterima, saya punya cara yang singkat supaya bisa dapat gelar Asy-Syahid, alias Shortcut to Heaven!! Gak perlu repot-repot pergi ke Palestina, Iraq, atau Afghanistan lalu bergabung bersama Mujahidin di sana untuk perang terus ketembak atau kena bom lalu mati syahid. Ngga perlu, bikin capek aja tuh. Gini caranya, Umbar pandangan ke akhwat atau cewek yang paling cantik menurut kamu, jangan yang jelek atau standar. Lihat terus dengan seksama wajahnya yang cantik dan menggiurkan, biarkan terus jangan bergeming! Tatap terus, terus, dan terus, abaikan stimulus dari luar. Hati-hati jangan sampe ngiler! Kalo ngiler nanti wibawamu jatuh di depan gadis pujaanmu! Kalau ternyata sikapmu yang sedang mengumbar pandangan itu kepergok gadis pujaanmu yang sedang kamu pelongin itu, biarkan saja, balas dia dengan kedipan mata yang genit. Jangan pedulikan larangan ALLAH dalam Surah Annur ayat 30-31 tentang kewajiban menundukkan pandangan atau hadits Nabi tentang larangan pada pandangan yang kedua. Ngga apa-apa dosa dikit, nanti juga ditebus dengan matinya kamu sebagai syahid. Lalu kamu biarkan bibit-bibit cinta tumbuh di hatimu, tumbuh menjadi bunga cinta yang indah dan mengakar kuat di hatimu, biarkan pikiranmu melayang dan merasakan dalamnya cinta itu. Nah, setelah kamu jatuh cinta pada pandangan yang pertama dan kelamaan memandang tersebut, bayangkan si doi dimanapun berada, kalau bisa ingat-ingat doi di setiap waktu dan tempat, waktu mau makan, tidur, masuk WC, dll. Setelah tubuhmu bergejolak tidak keruan gara-gara cinta itu, karena hormon-hormon dalam tubuhmu bersekresi tidak seimbang dan tidak teratur, maka jadilah kamu sakit sampai menjelang sakaratul maut. Tapi ingat! tetap jangan ungkapkan perasaanmu ke si doi, Jangan bilang “Uhibbuki”, “I Love U”, atau “aku cinta kamu”, sembunyikan dan tahan perasaan itu. Kalau ngga, nantinya malah ngga mati syahid. Biarkan dirimu sekarat gara-gara cinta itu sampai Malaikat maut menjemputmu. Selamat! ketika jantung tak lagi berdetak dan gelombang otak sudah tidak berfrekuensi lagi, tubuhmu tak perlu lagi dimandikan, langsung dikuburkan saja, karena kamu telah “SYAHID”! Itupun kalau hadits-hadits tersebut berderajat shahih atau paling tidak hasan.

Kedua, bila hadits-hadits tersebut diterima, maka akan menghapuskan keutamaan menikah yang merupakan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan beliaupun membenci orang yang tidak mau menikah dan menganggap bukan ummatnya bila tidak suka dengan Sunnahnya. Nikah merupakan anjuran bagi Ummat Islam, karena untuk melanjutkan keturunan, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan berbangga dengan ummatnya yang banyak jumlahnya di hari akhir nanti. Nikah bahkan merupakan Nishfuddiin (Setengah dari agama) dan setengahnya lagi ada dalam ketaqwaan kepada ALLAH Azza wa Jalla. Maka keutamaan-keutamaan tersebut akan hilang dibenak seseorang yang telah jatuh cinta dan mestinya melanjutkan ke tahap akad nikah. Dia akan berpikir, “Buat apa nikah? mending saya pendam saja perasaan cinta ini dan saya akan sabar dengan perasaan ini. Kemudian saya sembunyikan perasaan ini dan saya bawa perasaan ini sampai mati, biar saya mati syahid. Ini namanya Shortcut to Heaven. Gitu aja kok repot? Ya gak ?

Ketiga, Jika hadits ini Shahih atau Hasan maka bakal ada berapa banyak orang yang jadi pengangguran, lalai dan enggan melakukan aktivitas karena menikmati tikaman panah asmara dan menunggunya sampai dia sekarat dan “mati syahid”. Seandainya di suatu kota atau perkampungan masyarakatnya banyak yang berpikir untuk mengambil jalan Shortcut to Heaven seperti yang saya sebutkan pada poin pertama maka bisa jadi aktivitas kota atau perkampungan tersebut akan mati, jalan-jalan akan sepi, pasar-pasar pun akan sepi, mall-mall megah pun tak kalah sepinya, ketika malam tiba lampu-lampu tak kunjung menyala kecuali lampu kamar-kamar mereka yang sedang menikmati tikaman panah asmara. Karena semuanya sedang menderita karena terkena panah asmara dan menunggu untuk “syahid”. Tak ada keutamaan lagi dan tak ada alasan lagi untuk melakukan Da’wah dan Jihad, karena sudah punya cara untuk langsung masuk syurga dengan menikmati tikaman panah asmara yang mengantarkannya kepada “mati syahid”. Jadi untuk mati syahid tidak perlu dengan amalan-amalan yang berat seperti Jihad atau Da’wah atau yang lainnya, cukup dengan menghujamkan panah asmara ke diri sendiri lalu menunggu sampai dia terkena penyakit TBC (Tekanan Batin Cinta) yang membuat dia sekarat lalu “mati syahid”.

Nah, setelah membaca uraian diatas, apakah sudah terjawab pertanyaan : Boleh ngga sih mengungkapkan perasaan suka atau perasaan cinta kita ke lawan jenis?

Bila kita mendasarinya pada hadits hadits dha’if yang sudah dipaparkan di atas maka tak ada larangannya untuk mengungkapkan perasaan kita pada lain jenis. Kisah Ali ibn Abi Thalib ra. dan Fathimah putri Rasulullah SAW yang baru mengungkapkan perasaan cintanya pada saat setelah menikah sebenarnya tidak bisa dijadikan dalil larangan mengungkapkan cinta sebelum nikah, karena dalam kisah tersebut tidak ada fi’il amr (kata kerja perintah) atau fi’il nahyi (kata kerja larangan) untuk memerintahkan memendam perasaan cinta atau larangan mengungkapkan perasaan cinta. Jadi, setelah saya telusuri, sampai saat ini saya belum menemukan dalil-dalil yang melarang untuk mengungkapkan perasaan cinta atau perintah memendam perasaan cinta.

Artinya belum tentu orang yang mengungkapkan perasaan cinta kepada lawan jenis walapun bukan mahramnya (misalnya kekasihnya) adalah perbuatan fasiq.

Weits!! Tapi tunggu dulu!!
Jangan dulu beranjak!!
Mentang-mentang tak ada larangannya jangan dulu buru-buru pergi menghampiri si doi sambil ngasih bunga plus cokelat yang dibungkus dengan kado berbentuk hati berwarna pink disertai dengan tulisan “I Love U” sambil berlutut di hadapan si doi!

Jangan mentang-mentang udah belajar di Ma’had Al-Imaraat padahal baru level Tamhidi (persiapan) buru-buru ngambil HP terus dengan sok-sokan ngirim SMS pake Bahasa Arab ke si doi “Uhibbuki Jiddan (Aku sangat mencintaimu)”!

Atau tiba-tiba pas lagi baca tulisan ini si doi lewat di hadapan kamu, terus dengan spontan kamu menjilati telapak tanganmu lalu memoles rambutmu yang acak-acakan dengan telapak tanganmu berlumur air liur tersebut biar keliatan ganteng, kemudian menghampirinya dan bilang “Sebenarnya sudah lama aku mencintaimu.”

Sabar, masih ada pertimbangan lain. Pertimbangan maslahat dan madharat. Nah, ini yang Rani bilang ke teman Rani tadi. Artinya, ketika kita mengungkapkan perasaan cinta kita kepada seseorang yang kita cintai apakah kita juga memikirkan efek jangka panjangnya. Menghujamnya perasaan cinta yang mendaalam kemudian menimbulkan efek “khamr hati” yang kemudian membuat kita lalai dzikr kepada ALLAH, bahkan syirik mahabbah (cinta), faktornya bukan hanya dari mata. Memang kata Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Rawdhatul Muhibbin wa Nazhatul Musytaqiin salah satu faktornya memang dari mata jelalatan yang sering mengumbar pandangan, sehingga jadilah penyakit hati yang akut, bagaikan karat yang sangat tebal menutup cermin hati kita sehingga karatnya susah minta ampun dibersihkannya, larangan mengumbar pandangan jelas tertulis dalam Al-Qur’an surah Annur (24) ayat 30,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…”

Kemudian di ayat 31,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya…”

Begitu juga bila perasaan cinta itu diungkapkan, apalagi kalau cintanya gayung bersambut, akan memperkuat dan memperdalam rasa cinta kita pada sang kekasih, efeknya tidak jauh beda dengan ketika kita mengumbar pandangan. Kalaulah hanya bertepuk sebelah tangan efeknya pun bisa jadi tidak jauh beda, justru bisa jadi malah tambah semangat untuk mengejar sang kekasih agar mau menerima cintanya, usaha yang dilakukan pun tidak tanggung-tanggung, yang pada ujungnya melalaikannya untuk mencintai ALLAH.

Mengungkapkan perasaan cinta kepada lawan jenis yang belum menjadi mahramnya adalah kesempatan besar untuk men-tarbiyah (mendidik) dan menumbuh suburkan perasaan cinta kepada selain ALLAH. Bahkan efek “khamr hati” bisa jadi lebih berbahaya dari khamr yang asli. Bahkan tak jarang menjurus kepada syirik mahabbah (cinta), simak firman Allah,

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain ALLAH; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)

Cinta merupakan salah satu unsur ibadah kepada ALLAH, bahkan merupakan inti dari ibadah. Apa jadinya bila cinta yang merupakan unsur ibadah dibelokkan kepada selain ALLAH ? Benda-benda yang bisa menjadi stimulus untuk selalu mengingat sang kekasih, SMS-SMS darinya yang enggan dan sulit untuk dihapus karena perasaan cinta yang masih menyelimuti hati, lama-lama akan menghujam kuat dan menjadi karat hati yang amat sulit dibersihkan. Bahkan dokter sekalipun kebanyakan angkat tangan untuk menyembuhkan penyakit kasmaran. Jatuh Cinta akan membuat kita jatuh ke dalam cinta yang tidak berkah, terpuruk di dalamnya, terhina karenanya, membuat kita benar-benar jatuh. Membuat kita enggan bangkit dari tempat tidur karena menikmati khayalan indahnya bisa bersama dirinya, membuat kita menangis sia-sia karena merasa kehilangan dia.

Nah, dalam hal ini, menahan perasaan cinta lebih baik daripada mengungkapkannya, mengungkapkan perasaan cinta ibaratnya sebuah pemantik api yang akan membakar api asmara yang sulit dipadamkan. Jadi pertimbangkan juga dari segi maslahat dan mudharatnya.

Menahan untuk mengungkapakan perasaan cinta lebih maslahat bila belum siap untuk menikah, mengungkapkan perasaan cinta bahkan hampir tidak ada maslahatnya, justru madharatnya lebih besar. Bila kita bisa berpikir jernih dan memikirkan efek jangka panjang bisa kita dapati bahwa mengungkapkan perasaan cinta bila belum siap untuk menikah akan menimbulkan madharat, madharatnya yang paling kecil adalah lalai dari mengingat kepada ALLAH, madharat paling parah bisa menimbulkan syirik dalam hati karena mencintai selain kepada ALLAH seperti mencintai ALLAH, bahkan bisa lebih. Lain halnya bila sudah menikah, karena telah dibingkai dalam bingkai syari’ah, bahkan terdapat banyak keutamaan dibandingkan ketika membujang. Melakukan Jima’ yang dikatakan berzina bila dilakukan sebelum menikah maka setelah menikah justru mendapatkan pahala. Berpegengan tangan yang awalnya “lebih baik dicerca dengan besi yang panas dan menyala” ketika sudah menikah maka menjadi penggugur dosa.

Sekali lagi, Boleh ngga sih mengungkapkan perasaan suka atau perasaan cinta kita ke lawan jenis?

Walau secara tegas dan khusus belum ditemukan larangannya dan keutamaannya dalam Al-Qur’an dan Assunnah, namun di sisi lain kita harus mempertimbangkan dari segi maslahat dan madharatnya.

U : Cinta, dipendam atau dinyatakan ya ?
Q : Cari mana yang lebih maslahat dan mana yang mudharatnya kecil.

Wallahu a’lam

source referensi pendukung

Leave a comment

Filed under ISLAM, remaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s