Kisah : Putri Bunga Lili

Wah, rencananya Rani mau posting tentang penyembelihan, tapi dokumentasi belum sama Rani, nanti deh ya, kalo Rani udah dapetin foto-fotonya, baru Rani posting.

Sekarang, Rani mau posting tentang suatu kisah, kisah yang, hmm, agak sedikit Rani karang.. hhehe ^^v

Rani dapet tugas dari sekolah, disuruh mencari suatu cerita yang intinya mengulur waktu, seperti cerita “1001 malam”. Tapi ga dapet yang dicari, jadinya ya, dengan sedikit sentuhan jemari, ngedit-ngedit cerita lain deh. *ketuaan deh, eh, ketauan. :D*

Oke, langsung aja Rani mulai. Ceritanya berjudul “Putri Bunga Lili”.

***

Dahulu, di pedalaman Tunisia, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin. Mereka adalah Zaen dan Shafara. Mereka sedih karena belum mempunyai anak, padahal mereka telah berumah tangga cukup lama. Setiap waktu, Zaen dan Shafara selalu berdo’a agar diberikan keturunan.

Akhirnya, permintaan mereka dikabulkan. Shafara hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan cantik yang diberi nama Sa’diah. Sungguh beruntung mereka karena Sa’diah diberikan keajaiban. Dari mulutnya selalu keluar bunga Lili yang wangi ketika berbicara. Karena itu, Sa’diah diberi julukan putri bunga lili.

Sa’diah tumbuh dewasa dan cantik jelita. Kabar tentang Sa’diah pun didengar oleh penyihir jahat. Ketika Sa’diah pergi ke sungai, penyihir jahat itu menculiknya.

Zaen dan Shafara bersedih. Mereka tidak tahu Sa’diah ada dimana. Banyak pemuda yang dikerahkan untuk mencari Sa’diah yang hilang. Tapi tak ada seorangpun yang berhasil menemukan Sa’diah. Hingga akhirnya, Shafara mendengar tentang seorang juru ramal yang hebat dari kampung sebelah.

Suatu hari, Shafara pergi mengunjingi juru ramal itu.
“Anakku hilang, tolong beritahu dimana dia sekarang.” pinta Shafara.

Juru ramal langsung berkomat-kamit membaca mantra. Kemudian dia bersemedi. Lama, lama sekali, sehingga Shafara mengira juru ramal itu tertidur dalam semedinya. Tiba-tiba juru ramal itu membuka matanya dan membuat Shafara kaget.

“Di Gua Tanah Retak, aku bisa merasakan anakmu berada di sana. Ia disekap oleh penyihir jahat. Penyihir itu iri jarena keajaiban putrimu.” kata juru ramal itu dengan nada tenang dan datar.

Shafara hampir terjatuh karena semakin terkejut mendengarnya. Putrinya tengah disekap oleh penyihir jahat. Ia mencoba tenang dan mendengarkan kembali ucapan juru ramal. Akhirnya, juru ramal itu menunjukkan jalan ke arah Gua Tanah Retak kepada Shafara. Shafara berterima kasih dan langsung memberitahu Zaen.

Sa’diah yang malang. Sejak diculik oleh penyihir, ia diperlakukan seperti pelayan. Tidur beralas kasur tipis dan makan sepiring nasi kecil. Setiap hari dia disuruh bernyanyi. Sehingga, ribuan bunga lili keluar dari mulutnya. Penyihir jahat selalu menjual bunga-bunga lili tersebut ke kota.

Hidup Sa’diah penuh kesedihan. Selain bernyanyi, ia pun harus mencuci baju penyihir jahat, membersihkan rumah, dan bekerja keras sepanjang hari.

“Duhai, ayah dan ibu, di manakah kalian? Apakah kalian merasa bahwa putrimu tengah bersedih?”
Bait lagu itulah yang selalu dinyanyikan terus-menerus oleh Sa’diah.

Ketika Sa’diah terus bernyanyi, Zaen dan Shafara tiba. Akhirnya mereka menemukan putri mereka yang hilang. Mereka senang bisa menemukan Sa’diah disaat sang penyihir jahat sedang tidak ada. Lalu, mereka bergegas membawa Sa’diah dari rumah penyihir sebelum penyihir itu pulang dari menjual bunga. Tapi celakanya, penyihir telah pulang saat mereka mau pergi. Mereka akhirnya bersembunyi di dalam kuali penyihir yang cukup besar.

Betapa kaget dan marahnya sang penyihir melihat Sa’diah tidak ada di kamarnya. Matanya liar mencari ke segala penjuru arah. Keluarga yang sedang bersembunyi di dalam kuali terkejut ketika mata penyihir melongok ke dalam kuali.

“Aha ! Rupanya kalian bersembunyi di sini!” bentak penyihir. “Bagus! Setidaknya aku akan memasak daging manusia hari ini.”

“Tunggu dulu! Jangan kau celakai kami ! Kau boleh mengambil anakku!” teriak Shafara tiba-tiba. Zaen dan Sa’diah kaget mendengarnya.

Lalu Shafara melompat keluar dari kuali diikuti Zaen dan Sa’diah.
“Kau boleh mengambil Sa’diah untuk selamanya. Tapi aku mempunyai satu syarat yang harus kau penuhi dengan sempurna!” ucap Shafara.

“Syarat apakah itu?” tanya penyihir penasaran.

“Dulu, sewaktu putriku genap berumur lima tahun, aku membacanya sebuah dongeng untuknya sebelum tidur. Aku mau kau menceritakan kembali cerita yang aku ceritakan padanya waktu itu. Dan harus cerita yang sama!”

Zaen dan Sa’diah terkejut mendengarnya. Setahu mereka, Sa’diah tidak pernah mendongeng dan tidak bisa mendongeng. Namun mereka mengunci mulut rapat-rapat.

“Jadi kau hanya ingin aku bercerita? Tapi bagaimana aku tau cerita apa yang kau ceritakan? Ada banyak sekali cerita dongeng.” jawab penyihir itu.

“Kau adalah seorang penyihir. Seharusnya kau dapat menebaknya dengan mudah tanpa harus kuberikan kemudahan apa pun. Atau jangan-jangan kau bukanlah apa-apa. Bahkan menebak cerita saja tak mampu.” tantang Shafara.

Muka penyihir itu memerah. “Baiklah, akan kucoba.” katanya.

Penyihir itu mulai menceritakan cerita-cerita dongeng yang dia tahu. Namun Shafara selalu menggelengkan kepala mengatakan bahwa itu cerita yang salah. Sang penyihir pun bertanya-tanya di kota tentang dongeng-dongeng lain yang belum dia ketahui, dan menceritakannya dihadapan Zean, Shafara, dan Sa’diah. Namun tak ada satu pun yang benar.

Penyihir itu terus mencari cerita dongeng yang benar agar dia dapat memiliki Sa’diah selamanya, namun lagi dan lagi, dongeng yang diceritakannya salah dan dia belum dapat memiliki Sa’diah. Penyihir itu terus bercerita dongeng yang berbeda-beda sampai seribu satu malam.

***

Sekian ceritanya.. Hhaha, mungkin rada rancu, karena endingnya asli karangan Rani sendiri. *husst !! jangan bilang-bilang yaa..* 😀

7 Comments

Filed under remaja, Story-Stories

7 responses to “Kisah : Putri Bunga Lili

  1. Rina

    Sa’diahnya kok anak ajaib? pdahal mama & papa nya gak ada yg ajaib

  2. Rina

    Ceritanya keren amat.Ada cerita lagi gak penghibur pas gw galau?

  3. barde

    itu kok ada kuali besar dalam ceritanya mangnya buat masak apa

  4. ridu

    endingnya kok gx jelas giti sih,ran.
    tapi salut buat rani…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s