28-10-2010, Soempah Pemoeda

“Hari ini tanggal berapa anak-anak?”

“Tanggal 28 Oktober, Bu ..”

Tau nggak, hari ini hari apa?”

“Hari Kamis lah Buk, masa Hari Minggu. Libur donk..”

“Hari ini hari sumpah pemuda, anak-anak..”

“Ooh, iya ya.. Saya lupa, Buk..”

***

Dari penggalan percakapan di atas, Rani sangat sedih sekali.. Dari 10 orang, mungkin hanya 3 atau 4 orang yang ingat bahwa hari ini (28 Oktober 2010), memperingati hari Sumpah Pemuda. Tepatnya memperingati 82 tahun pencanangan ikrar Sumpah Pemuda oleh wakil-wakil generasi muda Indonesia pada 28 Oktober 1928.

Kurangnya rasa Patriotisme untuk menghargai jasa para pahlawan terdahulu ini sangat mengecilkan hati.

Apalagi di sekolah Rani, tidak mengadakan upacara bendera untuk memperingati hari besar Nasional seperti hari Sumpah Pemuda ini. Ketika ditanyakan kepada guru, ternyata itu adalah keputusan dari Dinas.

“Kenapa kita tidak melakukan upacara sendiri aja , Buk? Kenapa harus mengikuti Dinas?”, tanyaku saat pelajaran Bahasa Indonesia tadi.

“Sekolah kita ini dekat dengan Dinas Pendidikan. Apabila kita melaksanakan upacara bendera untuk memperingati Sumpah Pemuda tanpa sepengetahuan Dinas, maka apabila ketahuan kita akan dikira menghindari/menghambat proses belajar mengajar. Memang rasa patriotisme sekarang sudah memudar.”, jawab guruku.

Sejak kapan upacara untuk menghormati jasa para pahlawan dianggap menghindari/menghambat proses belajar mengajar? Rani ga ngerti.

Baiklah, itu sekilas cerita. Rani mau sedikit membahas tentang sumpah pemuda untuk mengingatkan kita semua akan hari bersejarah itu.

***

[SoempahPemoeda.jpg]

*Sumpah Pemuda versi  EYD* …………………………………………………………………………………………………………………………………………….

SUMPAH PEMUDA
Pertama
-Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
-Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Jakarta, 28 Oktober 1928

””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””

Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada waktu Kongres Pemuda yang diadakan di  Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928.

Panitia Kongres Pemuda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)

Peserta :

  1. Abdul Muthalib Sangadji
  2. Purnama Wulan
  3. Abdul Rachman
  4. Raden Soeharto
  5. Abu Hanifah
  6. Raden Soekamso
  7. Adnan Kapau Gani
  8. Ramelan
  9. Amir (Dienaren van Indie)
  10. Saerun (Keng Po)
  11. Anta Permana
  12. Sahardjo
  13. Anwari
  14. Sarbini
  15. Arnold Manonutu
  16. Sarmidi Mangunsarkoro
  17. Assaat
  18. Sartono
  19. Bahder Djohan
  20. S.M. Kartosoewirjo
  21. Dali
  22. Setiawan
  23. Darsa
  24. Sigit (Indonesische Studieclub)
  25. Dien Pantouw
  26. Siti Sundari
  27. Djuanda
  28. Sjahpuddin Latif
  29. Dr.Pijper
  30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
  31. Emma Puradiredja
  32. Soejono Djoenoed Poeponegoro
  33. Halim
  34. R.M. Djoko Marsaid
  35. Hamami
  36. Soekamto
  37. Jo Tumbuhan
  38. Soekmono
  39. Joesoepadi
  40. Soekowati (Volksraad)
  41. Jos Masdani
  42. Soemanang
  43. Kadir
  44. Soemarto
  45. Karto Menggolo
  46. Soenario (PAPI & INPO)
  47. Kasman Singodimedjo
  48. Soerjadi
  49. Koentjoro Poerbopranoto
  50. Soewadji Prawirohardjo
  51. Martakusuma
  52. Soewirjo
  53. Masmoen Rasid
  54. Soeworo
  55. Mohammad Ali Hanafiah
  56. Suhara
  57. Mohammad Nazif
  58. Sujono (Volksraad)
  59. Mohammad Roem
  60. Sulaeman
  61. Mohammad Tabrani
  62. Suwarni
  63. Mohammad Tamzil
  64. Tjahija
  65. Muhidin (Pasundan)
  66. Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
  67. Mukarno
  68. Wilopo
  69. Muwardi
  70. Wage Rudolf Soepratman
  71. Nona Tumbel

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum pembacaan teks Sumpah Pemuda, diperdengarkan lagu “Indonesia Raya”
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.

Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang yaitu :

a. Kwee Thiam Hong
b. Oey Kay Siang
c. John Lauw Tjoan Hok
d. Tjio Djien kwie

***

Itulah sekilas sejarah singkat hari Sumpah Pemuda.

Semoga hari Sumpah Pemuda tak pernah mati di telan masa.

Ayolah kawan, kobarkan semangat patriotisme mu !

Kita tak perlu berjuang melawan penjajah lagi, kita hanya perlu menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan terdahulu..😉

Leave a comment

Filed under remaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s