“Mandikan aku, Mama..”

Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang dimiliki olehnya sampai akhirnya,..

Nira, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah saya ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas; meraih yang terbaik di setiap kelas, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ‘‘Why not the best’, katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Nira termasuk salah satunya. Kalau saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. *hhehe, ngarep*

Selanjutnya, Nira mendapat pendamping yang ‘selevel’ dengannya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Nira diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih keuntungan besar di perusahaannya. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya.

Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikan anak itu sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Nira semakin menggila dan menjadi-jadi. Bak burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.

Suatu ketika, saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Nira menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Nira tinggal mengontrol jadwal Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.

”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Nira, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Nira bercerita pada saya kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Nira dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ‘memahami’ orang tuanya. Buktinya, kata Nira, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya sering pulang larut, ia jarang sekali ngambek.

Bahkan, tutur Nira, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Nira menyapanya dengan ”malaikat kecilku”.

Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Nira berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Mama yang mandikan,” ujarnya penuh harap. Tentu saja Nira, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, merasa terganggu. Ia tidak mengindahkan permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Mamaa!! mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Tapi Nira dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibukuk-bujuk, akhirnya Alif pun mengalah [lagi] untuk kesekian kalinya.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ”Halo. Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency. Tolong Bu Dokter..” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. ALLAH sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.

Nira, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Nira memang memiliki niat untuk memandikan Alif sendiri.

Dan siang itu, janji Nira pun terwujud, meski janji itu terwujud setelah tubuh si kecil terbaring kaku.

”Ini Mama Lif, Mama yang mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Nira menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Nira, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, iya kan Nis? *tanyanya pada saya* Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?” Saya diam saja.

Rasanya Nira memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Nira, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Nira berlutut. Mungkin tak dapat lagi menahan kesedihan dan bersikap tegar dihadapan orang banyak.

”AKU ADALAH IBUNYAAAAA!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Nira menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Mama mau mandikan Alif. Bahkan Mama mau mandikan Alif setiap hari kalau Alif mau. Beri kesempatan Mama sekali saja Lif. Sekalii saja, Aliiif..” Nira merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang di bawahnya terbaring jasad Alif. Senja pun makin tua.

Tak berapa lama kemudian, hujan turun rintik-rintik. Satu-persatu para pengantar penazah pun meninggalkan lokasi pemakaman. Nira sama sekali tak beranjak dari tempatnya tertelungkup. Air matanya menyatu dengan rintikan hujan yang turun. Setelah saya pujuk sebentar untuk pulang, akhirnya Nira mau diajak pulang walaupun masih dalam setengah terisak.

***

— Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.

— Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.

— Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu.

— Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.

MEREKA LUPA BAHWA ALLAH YANG MENENTUKAN SEMUANYA. HIDUP, MATI, REZEQI, JODOH HANYA ALLAH YANG MENENTUKAN.

Maksud dari tulisan ini agar menjadi renungan dan pelajaran yang berguna bagi kita semua.

-Ukhti KhaiRani-

Leave a comment

Filed under Story-Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s