Asas Dasar Ilmu dalam Agama dan Ciri Orang Shaleh/Shalehah

Dalam agama Islam, ada banyak cabang-cabang bidang pengetahuan yang diajarkan. Namun, dari sekian banyak bidang tersebut, ada 3 asas ilmu dalam agama Islam yang menjadi dasar/induk dari bidang-bidang lain.

Tahukah apa saja ke-3 bidang itu??

  1. Ilmu Tauhid > ilmu yang berbicara tentang masalah keimanan/keyakinan.
  2. Ilmu Fiqih > ilmu yang berbicara tentang masalah amal ibadah.
  3. Ilmu Akhlak > ilmu yang berbicara tentang masalah bagaimana berakhlak, bertindak dan berbuat.

Mula-mula orang yang beragama harus mengenal Tuhannya. Belum beragama seseorang apabila dia belum mengenal Tuhannya. Pertanyaannya : Apakah kita sudah mengenal ALLAH??

Disegi itulah ilmu tauhid diperlukan. Agar memperkenalkan kita kepada dzat yang menciptakan kita dan untuk mendekatkan kita kepada-Nya.

Dalam ilmu fiqih, itu bersifat pemahaman. Yang penting kita paham dan mentaati serta mengikuti apa yang telah diatur di dalamnya tentang amal ibadah.

Ada 4 garis besar secara keseluruhan yang mencakup ilmu fiqih, antaranya :

  1. Ilmu fiqih bagian ibadah
  2. Ilmu fiqih bagian mu’amalah (masalah hubungan kemasyarakatan)
  3. Ilmu fiqih bagian munakahat (masalah nikah menikah)
  4. Ilmu fiqih masalah jinayat (masalah pidana/perdata)

Akhlak dapat diartikan segala sikap dan tingkah laku manusia yang datang dari sang pencipta (ALLAH SWT).

Untuk apa Rasulullah SAW diutus??

Rasulullah SAW di utus oleh ALLAH semata-mata untuk menyempurnakan akhlak manusia sebagaimana sabdanya dalam hadist dari Abu Khurairah,

Sesungguhnya aku diutus Allah semata-mata untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia.”

Sebagai ummat Muslim, sudah kewajiban kita untuk mempelajari bidang-bidang ilmu yang terdapat dalam Islam, apalagi yang 3 asas dasar di atas. Namun, bila seandainya, tak dapat terpenuhi ketiga asas di atas pun, paling tidak, ada satu yang benar-benar dikuasai. Yaitu tak lain dan tak bukan adalah ilmu tauhid.

Setiap orang muslim di dunia ini, pasti ingin menjadi muslim yang shaleh/shalehah. Namun jangan salah, untuk menjadi shaleh/shalehah tersebut, tidak semudah dan segampang yang dipikirkan.

Orang shaleh/shalehah itu adalah orang-orang yang bagus jiwanya, orang yang bagus amalannya, dan sifat baiknya mengalahkan sifat buruknya.

Untuk menjadi orang shaleh/shalehah, minimal harus memiliki 5 amalan yang mencerminkan orang shaleh/shalehah.

1. Rajin membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Al Qur’an merupakan kitab suci yang merekam seluruh pesan-pesan Allah awt. Kita bisa menelaah apa saja yang ALLAH SWT sukai dan apa yang dimurkai-Nya. Orang yang memiliki iman yang kokoh akan berusaha membaca, memahami, dan mengamalkan apa yang ada dalam Al Qur’an.

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami (ALLAH) turunkan kepadamu, yang didalamnya penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya, dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mau menggunkan akalnya.” (QS. Shaad 38:29).

2. Mendirikan Shalat Malam (shalat tahajjud)

Betapa banyaknya manfaat yang dapat kita ambil dari shalat malam (shalat tahajjud).

3. Amar Ma’ruf (menyuruh berbuat baik)

Untuk menyuruh berbuat baik, banyak hambatan dan rintangan yang mungkin akan menghadang kita. Tapi janganlah kita berputus asa. Pertama-tama, kita harus menunjukkan dulu dengan perilaku kita sendiri. Jangan kita menyuruh orang untuk berbuat sesuatu yang baik, tapi kita sendiri tidak melakukannya.

4. Nahi Munkar (mencegah perbuatan tidak baik)

Mencagah perbuatan tidak baik juga sama halnya dengan menyuruh berbuat baik. Banyak hambatan dan rintangan yang kadang menghadang. Namun, apabila kita mencegah/melarang orang lain untuk tidak berbuat yang tidak baik, jangan pula kita malah melakukan perbuatan yang tidak baik tersebut..

5. Bersegera untuk beramal

Orang shaleh/shalehah itu tidak pernah menunda-nunda dalam beramal. Ia tak akan ragu untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Tangan nya akan ringan untuk memberi dan berbelas kasihan.

***

Dan ada ciri-ciri lainnya yang mencerminkan orang shaleh/shalehah.

  • Salimul ‘Aqidah

Salimul ‘aqidah artinya keimanan yang lurus atau kokoh. Aqidah atau keimanan kepada Allah merupakan fondasi bangunan keislaman. Apabila fondasi keimanan itu kuat, insya allah amaliah keseharian pun akan istiqamah (konsisten), tahan uji, dan handal.
Keimanan itu sifatnya abstrak, karenanya, untuk mengetahui apakah iman itu kokoh ataukah masih rapuh, kita perlu mengetahui indikator atau tanda-tanda iman yang kokoh.

  • Memiliki muraqabatullah

Orang yang memiliki keimanan yang kokoh merasakan ALLAH sangat dekat dengan dirinya, mengawasi seluruh ucap dan geraknya. Dengan demikian akan tumbuh dari dirinya perilaku yang lurus dan selalu mawas diri. Inilah yang disebut Muraqabatullah, yaitu kondisi psikis dimana kita meras ditatap, dilihat,dan diawasi Allah swt. kapan dan dimana pun berada. Adapun yang menjadi landasannya adalah:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Qaaf 50:16)

“Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempat. Dan tiada pembicaraan antar lima orang, melainkan Dia-lah yang keenam. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada, kemudian Dia akan memberitahuakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Mujadalah 58:7)

  • Dzikrullah

Orang yang memiliki keimanan yang kokoh akan merasakan kerinduan yang sangat kuat kepada Allah. Bila kita selalu merindukan-Nya, Dia pun akan merindukan kita. Dzikrullah adalah ekspresi kerinduan kepada ALLAH SWT.

“Dan dzikirlah (ingatlah) Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah 62:10)

“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya aku akan mengingatmu pula. Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah 2:152).

ALLAH SWT akan menyertai orang-orang yang selalu berdzikir/rindu kepada-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits qudsi berikut ini,

“Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan aku bersamanya ketika ia menyebut-Ku dalam dirinya, maka Aku menyebutnya dalam diri-Ku. Ketika ia menyebut-Ku ditengah-tengah sekelompok orang, mala aku menyebutnya ditengah-tengah kelompok orang yang lebih baik dari mereka (kelompok malaikat).” (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At Tarmidzi, dan Ibnu Majah)

  • Meninggalkan syirik

Syirik artinya meyakini ada kekuatan atau kekuasaan yang setaraf dengan kekuasaan, kebesaran, dan keagungan Allah swt. Orang yang memiliki keimanan yang kokoh akan memiliki loyalitas atau kesetiaan yang fokus kepada Allah swt., karenanya dia akan meninggalkan seluruh perbuatan syirik. Syirik diklasifikasikan sebagai dosa yang paling besar sebagaimana dijelaskan dalam keterangan berikut.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa :48)

  • Shahihul ‘Ibadah

Karakter orang shaleh/shalehah berikutnya adalah shahihul ibadah, artinya benar dan tekun dalam beribadah. Ibadah adalah ekspresi lahiriah pengabdian seorang hamba kepada Allah swt. para ahli membagi ibadah pada dua bagian, yaitu Ibadah ‘Ammah dan Ibadah Khashshah.Ibadah ‘Ammah adalah seluruh ucapan dan perbuatan – baik tampak ataupun tidak tampak – yang diridhai dan dicintai Allah swt. Misalnya, mencari ilmu, mencari nafkah, hormat kepada orang tua, ramah pada tetangga, dan lain-lain. Ini semua disebut ibadah ‘ammah karena teknik pelaksanaanya tidak diatur secara detail tapi disesuaikan dengan tuntutan situasional.

Sedangkan ibadah khashshah adalah ibadah yang teknik pelaksanaanya ditentukan atau diatur secara detail oleh Rasulullah saw. Musalnya ibadah shalat, haji, shaum, dan lain-lain. Kalau kita shalat, maka ruku, sujud, dan seluruh gerakan serta bacaanya harus mengikuti sunah Rasulullah saw. Kita tidak dibenarkan menambahi atau menguranginya karena shalat merupakan ibadah khashshah. Allah swt. membalas seluruh pengabdian kita sesuai dengan usaha dan kesungguhan yang kita lakukan. Makin rajin kita beribadah, Allah pun makin dekat dengan kita. Makin malas kita mengabdi, Allah pun makin menjauhi kita. Karena itulah orang-orang sholih akan rajin, tekun, dan khusu dalam beribadah kepada-Nya. Perhatikan keterangan berikut.

“Jika ia manusia bertaqarrub (beribadah) kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia berataqarrub kepada-Ku satu hasta, maka Aku mendekat kepada-Nya satu depa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari.” (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At Tarmidzi, dan Ibnu Majah).

Wallahu ‘alam bis shawab..

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang shaleh/shalehah dan selalu tidak lupa untuk meminta kepada ALLAH menunjukkan jalan-Nya yang lurus. Amin Ya Rabb..

1 Comment

Filed under ISLAM

One response to “Asas Dasar Ilmu dalam Agama dan Ciri Orang Shaleh/Shalehah

  1. I’ m currently blogging for a (poor) living for someone else… but I like it. You’ ve inspired me to keep doing it, and look to doing it for myself soon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s