Tarawih vs Ta’ajil

Ada sebuah cerita, diilhami dari sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi 10 tahun yang lalu. Beginilah ceritanya (sudah di revisi oleh Rani) :

Hari itu adalah malam ke-15 Ramadhan. Kebetulan aku sedang tidak ada di rumah, karena ada kegiatan berbuka bersama yang diadakan oleh temanku Khairi, di rumahnya. Sungguh rasa kebersamaan yang begitu kental antara satu sama lain sangat menguasai atmosfer di rumah temanku itu. Canda tawa dan saling bertukar pengalaman mengisi waktu pada saat itu, sembari menunggu adzan ‘Isya berkumandang. Ada juga yang langsung pulang ke rumahnya, tapi aku memutuskan untuk tarawihan disini.

Tak terasa, adzan pun berkumandang dengan merdunya. Kami yang masih tinggal untuk tarawihan bersama segera pergi menuju Masjid di dekat rumah Khairi. Aku dan teman-temanku yang perempuan, berpisah jalan di tempat wudhu dengan Khairi dan kawan-kawan. Karena memang tempat wudhu laki-laki dan perempuan saling berseberangan.

Setelah selesai berwudhu, kami memasuki Masjid dan mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat. Lalu tak lama setelah selesai, kami pun melaksanakan ibadah wajib shalat Isya.

Ceramah malam itupun berakhir dengan cepat. Dan tibalah saat yang aku nantikan setiap malam bulan Ramadhan, shalat sunnah Tarawih. Bilal pun mengumandangkan niat shalat dan para makmum segera bersiap, shalatpun dimulai.

MasyaALLAH.. shalat nya ‘ngebut’.. Kasihan aku melihat nenek yang sudah tua yang shalat tidak begitu jauh dariku. Sudah 6 rakaat Tarawih terlaksana, dan ibu disebelahkupun mulai menggerutu karena imam yang terlalu cepat. Saat bilal ingin mengumandangkan niat shalat tarawih yang 2 rakaat terakhir , ada suara lain yang menggantikan suara bilal itu, dan aku mengenal suara itu, suara Khairi !

“Ash shala ta sunnatat ta’ajil la’natullah.. Mari kita shalat ngebut agar dilaknat ALLAH !!”

Suaranya menggelegar di sekuruh ruang Masjid. Seolah di setiap dinding Masjid itu terpasang speaker yang tidak terlihat. Aku terkejut sekaligus salut atas keberanian Khairi dan berusaha menahan tawa agar tak meledak. Selama sekian detik, suasana hening. Dan akhirnya bilal yang asli memecah keheningan yang ada dengan mengumandangkan niat shalat tarawih yang asli. Dan tarawih pada rakaat terakhir inipun berjalan santai sampai witir. (tidak ngebut lagi) Ibu di sebelahku pun menghela napas panjang dan tersenyum, Alhamdulillah…

Malam ini aku mendapat pengalaman berharga, yang mungkin tidak akan pernah kudapat lagi.

Seusai shalat, akupun pamit kepada teman-teman untuk pulang ke rumah.

Nah, cerita diatas bukanlah kisah nyata, tapi diilhami dari kisah nyata. Sesungguhnya ALLAH melaknat segala sesuatu yang bersifat ngebut atau terburu-buru. Karena terburu-buru adalah pekerjaan syaitan.

Dalam satu kisah, Rasulullah SAW pernah mendatangi 2 jamaah yang berbeda. Di satu jamaah, shalat dilakukan dengan sangat cepat/ngebut. Para kaum muda sangat senang, sedangkan yang tua tidak suka. Maka terjadinya perang pendapat diantara keduanya. Rasulullah sangat prihatin.

Sedangkan di jamaah yang satu nya lagi, shalat dilakukan terlalu santai/lambat. Para orang tua merasa nyaman akan shalat yang berjalan lambat, namun para kaum muda memberontak dan tidak senang. Dan perang pendapat pun terjadi juga diantara mereka.

Maka, Rasulullah mengumpulkan mereka untuk mendamaikan sekaligus mencari jalan keluar. Apabila shalat terlalu cepat, maka kaum muda yang senang, kaum tua keberatan. Sebaliknya, apabila shalat terlalu lambat, maka kaum tua yang senang, kaum muda memberontak. Maka Rasulullah mengambil keputusan dengan kebijaksaannya, maka lebih baik tidak cepat dan tidak lambat, alias pertengahan/sedang-sedang saja. Maka kaum muda dan kaum tua pun setuju dengan Rasulullah. Sejak saat itu, tak ada seorangpun lagi yang mengeluh akan lamanya menjalankan shalat.

Nah, apalagi kalau digunakan untuk shalat sunnah tarawih. Tarawih artinya santai. Lawan dari tarawih, adalah ta’ajil. Ta’ajil artinya ngebut/terburu-buru. Orang yang melakukan shalat ngebut, tdk sesuai maknanya dgn tarawih. Maka itu, janganlah kita ta’ajil (ngebut) dalam melakukan shalat tarawih. Apa salahnya shalat secara santai, tidak perlu terburu-buru. Lagipula shalat itu membawa pengaruh positiv untuk kita.

“Ingat, kita tidak boleh terburu-buru bukan hanya dalam shalat. Tapi dalam segala hal. Karena terburu-buru adalah ciri pekerjaan syaitan. Apakah kita mau disamakan dengan syaitan??”

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.

– Ukhti KhaiRani –

 

Leave a comment

Filed under ISLAM, Sekedar Tahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s