Perjalanan Jauh Kita yang Sesungguhnya

Sangat merugilah orang yang menjadikan dunia fana ini tujuan hidupnya. Sedangkan Rasulullah bersabda, “….Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya…”

Betapa indah dan bijaksanannya perumpamaan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah terminal kehidupan sementara, hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya. Subhanallah….

***********************************************************************

Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur’anul Karim.  Ketika ingin menemuinya, pergilah ke mushalla. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku’, sujud dan menengadahkan ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.

Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan shalat.

Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku. Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua persendianku, maka aku pun segera menghampiri tempat tidur.  Nurah memanggilku dari mushallanya.

Dengan berat sekali, aku menyeret kaki menghampirinya.  “Ada apa Nurah?,” tanyaku.
“Jangan tidur sebelum shalat Shubuh!”, ia mengingatkan. “Ah. Shubuh kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama” Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhimya ia terbaring sakit. Ia tergeletak lemah di tempat tidur.

“Hanah!,” panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos. “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan. “Duduklah!” Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening… Sejenak kemudian Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. “Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (Al Imran: 185)

Diam sebentar, lalu ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja percaya!”

“Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang besar maupun yang kecil?” “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!” “Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si Fulanah… Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang. Aku menjawabnya penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku.

“Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan kematian ? Di mana aku akan tidur nanti ?” Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku benusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.

“Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?”, pancingku. “‘Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… Umur ada di tangan Allah, Hanah”, ia lalu terisak.  Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan.

Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para doker sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian.  Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?

“Mengapa ternenung? Apa yang engkau lamunkan?”, Nurah membuyarkan lamunanku. “Apa kau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat. Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau… Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat:

“Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh
ia telah beruntung” ( Ali Imran: 185)

“Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya. Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih tergiang-ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!”

Pagi hari… Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi. Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar  suara gaduh, orang banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang tejadi?” “Mungkin Nurah…?, “firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit.  Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.

Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah sakit. “Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,” demikian pesan ayah singkat. Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari biasanya.

“Mana sopir…?” kami semua terburu-buru. Kami menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam pejalanan liburan, kini terasa amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya kunanti-nanti sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo’a untuk keselamatan Nurah. “Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyia kan waktunya. Ia begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian. Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding.  Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang papan peringatan, “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!” Kami terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menemui kami. Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik, setelah beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.

Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan intensif. Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.

“Assalamu ‘alaikum, bagaimana keadaanmu Nurah? tadi malam, engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?” aku menghujaninya dengan pertanyaan.  “Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha tersenyum.  “Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik. Aku duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari jangkauanku.  “Ma’af, kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk.  “Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman
Allah Ta’ala, “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmul lah pada
hari itu kami dihalau”. (Al-Qiyamah: 29-30)

Nurah melantunkan ayat suci Alquran.  Aku menguatkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis dihadapan Nurah, aku membisu.  ” Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku diakhirat… Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”.  Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka takpernah melihatku menangis seperti itu.  Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah meninggal dunia….  Suasana begitu cepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan bersama-sama lagi. Oh Nurah…

Suasana dirumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka percakapan. Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.

Kini, tak ada sesuatu yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya.  “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham bahwa, “Kepada Tuhanmul lah pada hari itu kamu dihalau” “Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya
di mushallanya.  Malam ini, aku sendirian di mushalla almarhumah, terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dan merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo’akanku agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan…. ya Allah! Malam ini adalah malam pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia, terangilah kuburnya.

Ya Allah, ini mushaf Nurah,… ini sajadahnya… dan ini.. ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan kenangan manis pernikahannya.  Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku  berdo’a kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku.  Aku mendo’akan Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering dan suka mendo’akanku.  Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?”  Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allahu Akbar…Adzan fajar berkumandang.

Tetapi, duhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini.  Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku shalat Subuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pemah kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku Nurah. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika
tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.

***********************************************************************

Subhanallah, ambillah hikmahnya dari cerita pendek diatas saudara/i ku..

Leave a comment

Filed under Story-Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s