Aku Bukan Malaikat (Part 5)

sebelumnya, Aku Bukan Malaikat (Part 4)

…………………………………………………………………….

Teman-temanku ikut menyemangatiku, aku tak boleh larut dalam kesedihan. Aku pun mendapatkan diriku kembali. Setidaknya sekarang hubunganku dengan keluarga menjadi dekat kembali. Aku harus mengambil hikmahnya.

Ternyata cobaan berat masih enggan meninggalkanku. Di Minggu pagi, 4 bulan setelah kejadian itu, aku kembali menghubungi keluarga disana. Tidak dijawab. Ku ulang lagi, tidak di angkat. Akhirnya aku menghubungi telepon rumah, dan di angkat. Tapi yang mengangkat bukanlah Muty, mama, ataupun Mas Rauf. Yang mengangkat adalah bundaku, Bunda Fitri.

“Halo, Assalamu’alaikum..” kataku.
“Wa’alaikum salam.. Ini Rani ya?”, jawabnya.
“Iya, ini….”
“Ini Bunda sayang.. Di rumah lagi ga ada orang. Bunda ke rumah cuma mau ngambil baju sedikit.”
“Ooh, ini bunda. Emang mama, Mas Rauf sama Muty kemana, Bun? trus buat apa ngambil baju?”
“Mama sama adikmu kena musibah sayang.. Kemarin kecelakaan waktu pergi ke pasar. Bunda ngambil baju buat ganti di rumah sakit.”

Aku terkejut mendengar kabar ini.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.. Jadi gimana keadaannya Bunda?”
“Mamamu cuma luka ringan, tapi Muty, adikmu agak parah.”

Aku tercekat. Muty? Ya ALLAH, dia anak baik, beri kesempatan..

“Jadi gimana dengan Muty?”
“Dokter berusaha sebisanya. Kita serahkan semua pada ALLAH.”
“Baru 4 bulan setelah kepergian papa, sudah datang lagi cobaan berat, Ya ALLAH..”
“Sabar sayang, ALLAH memberikan cobaan karena yakin hamba-Nya dapat menjalaninya. Jadi yang tabah ya..”
“Bunda, dalam waktu dekat, mungkin Rani bakal pulang ke sana. Do’ain lancar Bunda..”
“Iya sayang.. Sudah dulu ya, Bunda musti buru-buru nih. Assalamu’alaikum..”
“Ya sudah, Wa’alaikum salam..”

Dalam minggu ini aku akan pulang, aku tak boleh menyia-nyiakan waktu. Ku pergi ke dalam kamar, ku mengecek jumlah uang yang kupunya. Kurang, Ya ALLAH.. Bagaimana ini.. Untung teman-temanku sangat mendukungku, mereka prihatin terhadap kejadian yang menimpaku. Merekapun meminjamkan uangnya kepada ku. Akupun segera mengurus segala keperluan yang kubutuhkan. Terima kasih teman-teman.. Kalian amat sangat berarti untukku.

3 hari kemudian, aku siap berangkat untuk pulang ke tanah air. Bunda mengirimkan kabar bahwa keadaan Muty sudah membaik, mamapun sudah sehat wal’afiat. ‘Alhamdulillah’, haturku. Aku ingin cepat-cepat sampai dan bertemu lagi dengan keluargaku tercinta, terutama dengan mama, Muty dan Mas Rauf.

– – – – –

Pesawat landing, akupun segera bergegas.

Di salam taksi, aku sudah tidak sabar ingin bertemu lagi dengan semuanya. Sudah hampir 3 tahun sekarang aku tak bertatap muka lagi dengan mereka.

Kira-kira tinggal 2 km lagi jarakkku dengan rumah sakit tempat Muty di rawat. Aku sudah tak sabar lagi.

Dan aku telah sampai. Ingin berlari rasanya aku menyongsong keluargaku. Tiba-tiba hp ku berdering, dari mama. Aku angkat.

“Halo, Ma.. Assalamu’alaikum.. Rani dah nyampe. Ini mau ke kamarnya sekarang.”, aku mengangkat telepon sambil menahan rasa senang yang hampir tak dapat ku tahan lagi.
“Wa’alaikum salam.. Hiks, Rani..” jawab mamaku sengau.

aku sedikit aneh, mama seperti menangis. Aku berpikir mama terlanjur bahagia karena kedatanganku sampai menangis. Aku tetap berlari menuju kamar 204, Anggrek. Ya, disitulah kamar Muty.

“Rani, Muty.. Muty..” katanya lagi sambil terisak.. Mencoba mengatakan sesuatu tapi tak sanggup. Tapi aku tak menghiraukannya, aku terlalu terlena dalam kegembiraan.

Akupun sampai di depan pintu kamarnya, langsung kubuka tanpa ragu.

“Mama, Muty, semuanya, Rani sudah datang….” kataku menggelegar mengisi ruangan yang penuh dengan isakan. Senyum di wajahku langsung hilang seketika. Hp ku terjatuh, menimbulkan suara nyaring yang ganjil di lantai kamar rumah sakit. Dihadapanku, ada jasad terbaring kaku, dengan bagian wajah tertutup kain putih. Disekelilingnya, semua terbuai dalam isakan yang tertahankan.

“I..i..itu, bu..bu..bukan,..” gagap ku gemetaran.
“Ranii..” mamaku memelukku dengan erat. Dapat kurasa getaran hebat dari badannya. Pipinya sudah basah dengan airmata. Air matakupun meleleh. Ada suatu kenyataan yang tak dapat kuterima. Pasti aku sedang bermimpi sekarang, dan ketika aku terbangun, aku masih ada di kamar kos ku di Egypt. Tapi mama menyadarkanku.

“Rani, itu Muty sayang.. Hiks, hiks.. Dia sudah menyusul papamu sesaat sebelum mama meneleponmu. Hiks, hiks.. Sabar ya sayang..”

AKU TIDAK BERMIMPI. INI SEMUA BUKAN MIMPI.

“Tunggu dulu, Ma.. Tapi mama bilang Muty sudah membaik. Bagaimana bisa, bagaimana bisa dia jadi seperti ini?”
“Keadaannya memang sudah membaik sejak kemaren. Tapi tadi pagi keadaannya drop lagi. Hiks, hiks..”

Muty, adikku yang tegar. Sekarang dihadapanku. Bayanganku akan disambut oleh senyum manisnya setelah lama tak bertemu hancur berkeping-keping.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un..” aku pun menangis dalam pelukan mama. Hari itu terasa amat panjang. Andai aku datang lebih awal sedikit saja, mungkin aku masih bisa mendampinginya disaat terakhirnya. Muty..

Akupun memeluk jasad dingin Muty, ku buka kain putih yang menutupi wajahnya. Ku kecup keningnya, ku usap wahahnya dengan sayang. ‘Adikku, kakak sangat sayang padamu, semoga kau tenang di alam sana. Maafkan kakak karena terlambat.’ Mas Raufpun merangkulku, akupun memeluknya.

“Mas, Muty mas.. Muty, hhuu..” kataku di pelukan Mas Rauf.
“Sabar Rani, kita semua harus sabar menjalaninya. Kita semua adalah milik-Nya, dan hanya akan kembali pada-Nya. ALLAH sayang dengan Muty, maka itu memanggilnya duluan.”
“Hhuu..” akupun menangis, menangis, dan menangis. Tapi aku merasa sedikit terhibur oleh Mas Rauf, kata-katanya sangat menenangkanku.

Setelah pemakaman Muty, aku pun langsung berziarah ke makam papa. Agak berbeda lokasinya dengan Muty, jadi harus berpindah tempat. Akupun berdo’a disana, dan menangis lagi.

Hah, aku hanya menangis, menangis, dan menangis. Hanya menangis yang dapat kulakukan.
Ya ALLAH, bagaimanapun hamba-Mu ini, hamba tetaplah manusia biasa. Hamba rapuh, tak berdaya.

Aku Bukan Malaikat..
…………………………………………………………………….

*THE END*
(cerita ini hanyalah fiktif belaka. apabila ada kesamaan nama tokoh dan kejadian, mohon dimaafkan. Karena itu hanyalah kebetulan belaka)

maaf kalau endingnya mengecewakan. Karena saya juga masih dalam tahap belajar.
[Tepatnya agak bingung mau ending kayak mana. ^^v]

> agak gantung endingnya.

1 Comment

Filed under Story-Stories

One response to “Aku Bukan Malaikat (Part 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s