Aku Bukan Malaikat (Part 4)

sebelumnya, Aku Bukan Malikat (Part 3)

…………………………………………………………………….

Setiap malam ku berdoa kepada ALLAH, untuk kesembuhan papaku. Bahkan aku juga meminta teman-temanku untuk turut mendo’akan kesembuhan papaku. Alhamdulillah teman-temanku ikut simpati.

Sekarang setiap hari aku selalu diberi kabar tentang keadaan papa. Kadang Muty, kadang mama yang menelponku. Keadaan papa hampir tak ada perubahan, aku semakin khawatir.

Beberapa hari berikutnya, aku menunggu telponku berdering. Tapi seharian aku menunggu, sama sekali tak kudengar dering nya. Ku coba menelpon duluan, ternyata nomor dialihkan. Ada apa ini? Aku sangat khawatir. Ya ALLAH, apa yang terjadi.. Seharian itu aku tak tenang. Teman-temanku mencoba menenangkanku, mencoba meyakinkan tak terjadi apa-apa. Tapi entah kenapa, hatiku tak dapat tenang.

Malamnya, kumenemukan jawaban kenapa aku tak dapat menghubungi keluarga disana. Saat aku membuka e-mail malamnya, aku menemukan sebuah pesan masuk yang hampir membuatku pingsan. Tapi aku harus kuat. Beginilah kira-kira isinya :

———————————————————————————
To : “Rani Khairunisa” <mutiara.rani@gmail.com>
From : “Mutya Aulina” <mutya.tya@gmail.com>
Subject : Kabar Duka

Assalamu’alaikum wr.wb.
Kak, mungkin hari ini kakak tak dapat menghubungiku atau mama. Karena kami juga tak dapat menghubungi kakak. Aku hanya ingin menyampaikan suatu hal, dan kuharap ini takkan mengganggu belajar kakak disana. Hari ini, tepatnya jam 8 pagi tadi, layar alat pendeteksi jantung papa sudah datar. Papa sudah kembali kepada-Nya. Kakak do’ain aja supaya papa tenang di sisi-Nya ya kak. Kakak harus tegar, kami semua disini juga berduka. Jangan menyiksa diri kakak sendiri. Ingatlah, semua memang akan kembali pada-Nya.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

salam sayang,
Muty
——————————————————————————–

Ya ALLAH… Langsung kaku raga ini, mati rasa. Tak dapat kurespon segala sesuatu dengan baik lagi. Ku berharap ini semua hanyalah mimpi, ya hanya mimpi buruk. Ku berharap agar aku terbangun sesegera mungkin dari mimpi buruk ini. Tak dapat kupercayai mataku. Kuulangi beberapa kali membaca e-mail singkat dari adikku itu, tapi tak ada perubahan pada kata-kata yang kubaca.

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un.” kataku lemah..
Aku adalah orang yang lemah. Tak dapat kutahan lagi jeritan yang telah lama kupendam ini.
“PAPA …….. PAPA…….. Kenapa papa ninggalin Rani.. Rani belum sempat minta maaf kepada papa. Ya ALLAH, kenapa kau panggil papaku.. Kenapa kau tak mengindahkan do’aku.. hhuu..” aku menangis dalam gelap. Ku terlena dalam kesedihan, ku terjerat dalam kesepian.

Lalu kubaca sekali lagi e-mail itu. Kubaca kalimat terakhirnya. Betapa ku merasa malu. Adikku Muty sangat dewasa, bahkan dia mengingatkanku untuk tegar. Malam itupun kuhabiskan dengan menangis. Menangisi kepergian papa, sekaligus menangis karena mengasihani diriku sendiri yang tak bisa tegar.

……………………….
to be continue..
(cerita ini hanyalah fiktif belaka. apabila ada kesamaan nama tokoh dan kejadian, mohon dimaafkan. Karena itu hanyalah kebetulan belaka)

2 Comments

Filed under Story-Stories

2 responses to “Aku Bukan Malaikat (Part 4)

  1. Pingback: Aku Bukan Malaikat (Part 5) « Missing Princess's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s