Aku Bukan Malaikat (Part1)

“Agh.. Sudah kubilang dari kemaren, jangan kebut-kebutan!”, aku menasehati Abangku yang baru pulang dari kebut-kebutan dengan teman gank-nya. Dia babak belur karena kalah taruhan dan tidak mau bayar.
“Ah, cerewet kau Rani!”, balasnya sambil lalu.
“Iih, dasar Mas Rauf.. Susah dibilangin, ngeyel. Masa setiap malam pulang dalam kondisi babak belur terus”, kataku kesal.

Yeah, inilah kehidupanku. Nama ku Rani. Setiap malam aku selalu ngomel terhadap abang ku satu-satunya, Mas Rauf yang tak pernah mengindahkan nasihatku. Aku juga punya seorang adik, bernama Muty. Dia tidak banyak bertingkah, tapi dia suka berfoya-foya dengan temannya. Orang tuaku dua-duanya sibuk, dan jarang di rumah. Jadi penghuni rumah hanyalah aku, Mas Rauf, dan Muty.

Beberapa hari kemudian…
“Rani, Rauf, Muty.. Mama pulang..”, kata suara yang tak asing lagi ditelingaku.
Aku langsung menemui ibundaku tercinta. Aku mencium tangannya lalu memeluknya. Beliau masih sama seperti biasa, dengan rambutnya yang panjang di gerai lepas. Dan dandanannya yang *maaf* agak berlebihan.
“Rani, mana Mas mu dan adikmu? Kok cuma kamu yang menyambut mama?”
“Mas Rauf tadi keluar dengan teman-temanya. Begitu juga dengan Muty, Ma..”
“Oo.. Papa mana?”
“Papa belum pulang dari 3 hari yang lalu.”
“Ya sudah, mama juga mau keluar lagi. Sepertinya mama pulangnya besok.”
“Mama, kok mama ga pake jilbab sih? Kan Rani dah bilang, lebih baik mama pake jilbab. Masa Rani pake jilbab mama nggk.. Dan kurangi menggunakan perhiasan, ma.. Dapat mengundang bahaya.”
“Ah, kamu ini sok mengajari mama. Mama tau apa yang mama lakukan. Ya sudah mama pergi dulu yaa.”
“Ma, kalo bisa jangan sering-sering pergi. Luangkanlah waktu mama di rumah.”
“Tidak mungkin. Mama harus kerja cari uang buat keluarga kita.”
“Kan udah ada papa..”
“Sudahlah.. Yang pentingkan kamu tetap mama urusin. Ga usah protes. Mama pergi ya..”

Ya, itulah percakapan singkat antara aku dan ibundaku tercinta. Aku kadang menangis sendiri di dalam kamar. Aku merindukan saat-saat berkumpul bersama. Rasanya sudah bertahun-tahun keluarga ini tidak berkumpul bersama lagi. Dan aku juga kecewa dgn keluargaku, karena mereka tak pernah menerapkan hukum islam di kehidupan sehari-harinya.

Hubunganku sudah tidak baik kepada papa. Karena aku sudah pernah memakinya. Sebenarnya aku menyesal, tapi aku sudah terlanjur kesal paa beliau.

“Pa, jangan tinggalin shalat dong.. Malu ah, masa Rani punya papa yang jarang shalat.”
“Ah, kamu ini sok alim kali sih. Yang pentingkan papa kerja, dapat uang, buat kamu juga kan?”
“Papa, kalo papa ga shalat, nanti papa jadi orang kafir !”
setelah itu, papa mengacuhkanku. Aku pun tidak begitu mengacuhkannya, karena aku sudah terlanjur kesal padanya. Aku tau aku telah menyakiti hati papa, tapi mau bagaimana lagi? kesabaranku sudah habis.

Karena sudah tidak tahan, setelah lulus SMA, aku mencari pelarian. Dan aku mendapat beasiswa ke Cairo university. Tapi bukannya disambut gembira oleh keluargaku, mereka malah senang, karena aku akan pergi dan tak akan mengganggu mereka dengan nasihat-nasihatku lagi. Akhirnya aku pergi secepat mungkin, dan tanpa berpamitan, karena memang tidak ada orang di rumah.

Dan saat pergi, aku menguatkan hatiku. “Ya ALLAH, kuatkanlah hambamu ini. Semoga hamba bisa melewati semua cobaan yang kau berikan.”

…………………………………….
to be continue..
(cerita ini hanyalah fiktif belaka. apabila ada kesamaan nama tokoh dan kejadian, mohon dimaafkan. Karena itu hanyalah kebetulan belaka)

1 Comment

Filed under Story-Stories

One response to “Aku Bukan Malaikat (Part1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s