Keyakinan untuk melakukan sesuatu??

Pagi tadi cuaca tidak mendukung, dan menghasilkan tak terlaksananya upacara bendera. Maka, jam belajar pun segera dijalankan. Saat pelajaran TIK (jam 3-4, yang berubah menjadi jam 2-3 karena tidak jadi upacara) tadi, guru TIK Rani sempat bertanya suatu pertanyaan yang OOT (Out Of Topic).

“Tau ga’, kenapa bapak ga pernah ikut upacara bendera setiap Senin dan yashin-an setiap Jum’at?”

“Emang kenapa, Pak??”

“Karena pada waktu upacara, kita hormat kepada bendera, dan bendera itu adalah benda mati. Maka sama saja seperti kita menyembah berhala.”

“Tapi itu bukannya tergantung niat dan maksudnya, Pak? Kita kan ga bermaksud untuk menyembah, tapi menghormati. Sebagai penghormatan simbolik atas perjuangan para pahlawan yang telah gugur di medan perang.”

“Itu kan keyakinan bapak… Jadi kalian boleh aja ga ikut, tapi kalian harus yakin dulu seperti bapak..”

“Kalau masalah yashin-an, Pak??”

“Rasulullah SAW tidak pernah yashin-an. Jadi untuk apa kita yashin-an?? Sedangkan Rasulullah saja tidak.”

“Tapi pak………..”

“Sudah lah.. Apabila dilanjutkan akan panjang ceritanya. Kita kembali ke pelajaran kita.”

“……………..”

Percakapan singkat itupun menjadi pikiran Rani (walau tidak begitu dipikirkan..).

Saat pulang sekolah, Rani bercerita kepada abah tentang kejadian itu. Dan abah berkata, “guru Rani itu orang Salafi.. Melakukan sesuatu yang diyakininya dan tidak mau melakukan yang bertentangan dengannya.”

“Ooh, begitu..”

Baiklah, jadi ini semua berdasarkan keyakinan ya?? Jadi bagaimana uraian yang menurut Rani  ??

***

1. Upacara bendera pada hari Senin

Rani tidak setuju dengan pendapat guru Rani. Hormat kepada bendera pada saat upacara itu hanyalah sebagai simbolik penghormatan kita untuk menghargai perjuangan para pahlawan yang bertempur di medan perang untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Lagipula kita sama sekali tak ada niat untuk menyembah bendera tersebut, kecuali kalau kita memang berniat menyembahnya, itu baru tidak boleh.. Kita kan sebagai warga negara yang berkebangsaan Indonesia, memang memperingati hari Senin itu sebagai hari peringatan atas jasa para pahlawan, jadi kenapa pula jadi seperti menyembah berhala pula??

2. Yasiin-an pada hari Jum’at

Awalnya Rani bingung, kenapa tidak ikut yasiinan?? Ternyata alasannya karena Rasulullah saja tidak pernah melakukannya, kenapa kita melakukannya??

Rani bingung dan alhasil, Rani browsing  di internet, mencari penjelasannya.

Hadits dari Jundab bin Abdullah ra, Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ قَرَأَ يس فِيْ لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ
”Barangsiapa membaca YASIN pada suatu malam hanya dengan mengharap keridha-an Allah, maka dia akan diampuni.”

ada yang mengatakan hadist ini lemah. Ya ALLAH, hamba semakin bingung.

Ada sebuah komentar dari saudara Abudaniel dari sebuah artikel muslim yang berbunyi seperti berikut :

Wirid Surat Yasin atau dikenal dengan “Yaasinan” sudah menjadi budaya dibumi Melayu. Terlebih-lebih pada Malam Jum’at, pada saat musibah kematian, pada acara kenduri arwah, bahkan pada acara-acara syukuran. Bahkan tatkala seorang manusia dalam keadaan sakaratulmaut, pasti akan dibacakan Surat Yaasin.
Sholat boleh bolong-bolong, tapi Yaasinan sedapat mungkin jangan sampai bolong. Jadi sudah sangat melekat pada amalan masyarakat kita. Kalau kita tanyakan, apakah ada suruhan yang demikian?. Jawabnya (bagi masyrakat awam), orang tua-tua dulu melakukannya, jadi kami juga ikut melakukannya. Jawaban yang mudah dan persoalannya jadi selesai.
Membaca Al-Quran, termasuk Surat Yaasin, adalah salah satu Ibadah sunnah. ‘Ibadah yang mengandung pahala.
‘Ibadah yang merupakan syari’at.
Membaca Al-Quran, termasuk Surat Yaasin adalah satu diantara sekian banyak Syari’at didalam agama Islam yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dari sang Pembuat Syari’at.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran (AQ)S-5 Ayat 3 : ”Pada hari ini telah Aku sempunakan agama bagimu dan telah Kucukupkan nikmatKu untukmu dan Aku telah redho Islam sebagai agamamu”.
Seandainya ada yang membuat cara baru, menentukan sesuatu ritual ‘ibadah baru, mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama (peribadatan) Islam, maka hal tersebut tertolak. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah RA oleh Bukhari (hadits No. 2697) dan Muslim (hadits no.1718): ” Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dalam urus(agama) kami, maka ia tertolak”.

Jadi mengenai Yaasinan, kalau memang ada hadits shahih yang mendukungnya, maka silakan saja mengerjakannya, tetapi kalau tidak ada hadits shahih yang mendukungnya, maka tinggalkanlah; lebih baik mengerjakan amalan-amalan yang sudah mempunyai dalail yang qothi’, dari pada terjerumus pada yang shubhat yang akan membuat kita berdosa.
Jangan karena sebahagian ulama kita melakukannya, atau orang-orang tua kita melakukannya, maka pekerjaan itu kita anggap baik. Ingat Allah telah berfirman didalam kitabnya :” Dan apabila dikatakan kepada mereka : Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah!., mereka menjawab, “(Tidak mau!). Kami hanya akan mengikuti apa yang dilakukan oleh bapak-bapak kami”. Allah menjawa “(Apakah mereka mengikuti juga) walaupun bapak-bapak mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk? ( AQ S-2:170).

***

Jujur, Rani tidak mengagungkan/mengutamakan untuk membaca surah yasiin. Tapi menurut yang Rani tau, surah yasiin itu mencuci dosa orang yang membacanya.

Allahu allam, membaca surah yasiin itu adalah ibadah yang baik juga, maka apa salahnya?

***

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya. Bila ada komentar, pendapat lain, atau sanggahan, silahkan share tanpa ragu.

- Ukhti KhaiRani -

Leave a comment

Filed under ISLAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s